Simulasi Bintang Netron di Permukaan Bumi

Hitunglah indeks-h anda!


Belum dipubliksi di media cetak

Simulasi Bintang Netron di Permukaan Bumi

Baru-baru ini beberapa kolega saya menanyakan cara untuk mengetahui seberapa banyak paper mereka telah dikutip oleh peneliti lain, sebab mereka mulai mendengar jika jumlah kutipan (citation) tersebut mulai diperhitungkan sebagai indikator kinerja atau keberhasilan seorang peneliti. Tentu saja jawabnya mudah, asalkan mereka dapat mengakses data dari Institute for Science Information (ISI) yang berkantor di Philadephia, USA. Sayangnya akses tersebut tidak gratis. Namun, untuk mengetahui secara kasar, Google Scholar yang dapat diakses dari mana saja secara gratis mungkin dapat membantu, tentu saja dengan sedikit usaha untuk membuang “sampah-sampah” internet yang ikut terjaring. Untuk fisikawan partikel dan nuklir, database di perpustakaan Stanford (SLAC-SPIRES) memberikan fasilitas ini.

Sekitar 10 tahun yang lalu saya pernah menulis problematika yang dihadapi ilmuwan di negara berkembang dalam penggunaan data ISI (harian Republika, 2-3 Februari 1996, artikel dapat diakses dari situs http://staff.fisika.ui.ac.id/tmart/mainz.html). Setiap tahunnya ISI mengeluarkan data Journal Citation Index yang mengurutkan lebih dari 5000 jurnal ilmiah berdasarkan jumlah kutipan yang diterima setiap jurnal dan dibagi dengan jumlah paper yang diterbitkan selama dua tahun terakhir. Angka tersebut mereka namakan Faktor Dampak (Impact Factor) sebuah jurnal. Jurnal yang ingin masuk ke dalam database ISI harus membayar uang langganan setiap tahun yang tidak murah meriah. Hal ini jelas sangat memberatkan jurnal-jurnal dari negara berkembang, sehingga logis jika banyak keluhan yang dilontarkan terhadap faktor dampak ini. Terlebih-lebih sejak faktor tersebut mulai digunakan pada tempat yang tidak semestinya, seperti pada perekrutan staf pengajar, penilaian institusi, ataupun pada penilaian proposal riset.

Bagi pelanggan, ISI dapat memberi informasi jumlah kutipan yang diterima oleh setiap paper, sehingga pelanggan dapat mengetahui jumlah kutipan yang diterima oleh setiap ilmuwan baik secara total maupun rata-rata. Angka-angka inilah yang kini sering digunakan dalam menilai kinerja seorang ilmuwan. Namun, patut diwaspadai bahwa penilaian kinerja seorang ilmuwan berdasarkan jumlah paper atau jumlah kutipan memiliki beberapa keuntungan maupun kerugian, seperti pada beberapa metode berikut:

  1. Jumlah total paper (P). Jumlah ini sering dipakai untuk mengukur produktivitas ilmuwan, namun jumlah ini tidak merefleksikan dampak serta pentingnya hasil penelitian.

  2. Jumlah total kutipan (Q). Jumlah ini mengukur dampak total, namun nilainya dapat menjadi bias akibat satu atau dua paper yang memiliki jumlah kutipan besar. Hal terakhir ini akan menjadi tidak representatif terutama jika paper-paper tersebut ditulis bersama dengan peneliti lain (kolaborasi).

  3. Jumlah kutipan per paper (Q/P). Dapat dipakai langsung dalam membandingkan kinerja ilmuwan, namun sayangnya cara ini sangat menguntungkan ilmuwan dengan produktivitas rendah dan “menghukum “ mereka yang produktivitasnya tinggi.

  4. Jumlah paper “penting” yang ditetapkan dengan persyaratan setiap paper memiliki jumlah kutipan tertentu, misalnya sebanyak R. Metode ini menghilangkan semua kerugian dari ketiga metode di atas, namun metode ini memerlukan nilai R yang bersifat sembarang, yang tidak dapat dipatok secara umum.

  5. Jumlah kutipan pada sejumlah paper yang paling sering dikutip. Cara ini dapat menekan semua kerugian yang dikemukakan di atas, namun kembali memiliki kerugian karena nilai “sejumlah paper” tidak dapat dipatok secara umum.

Karena belum ada cara efektif dalam menilai kinerja seorang ilmuwan secara kuantitatif, baru-baru ini seorang fisikawan di Universitas California bernama Jorge E Hirsch mengusulkan sebuah indeks yang ia namakan indeks-h. Meski indeks ini masih sangat baru dan masih terus diteliti keakuratannya, metode ini telah menjadi pembicaraan hangat di forum-forum ilmiah.

Seorang ilmuwan memiliki indeks-h jika ia memiliki paper sebanyak h dengan jumlah kutipan untuk setiap paper tersebut minimal sama dengan h. Jadi, jika jumlah total papernya adalah P, maka ia akan memiliki sebanyak P - h paper dengan jumlah kutipan lebih kecil dari h untuk setiap papernya.

Dengan metode ini Jorge Hirsch mendapatkan Edward Witten sebagai fisikawan dengan indeks-h tertinggi (110). Witten dikenal sebagai fisikawan yang bergerak dibidang teori superstring dan paling banyak dikutip papernya. Bahkan, sekitar 17 papernya telah memiliki jumlah kutipan lebih dari 1000 per paper. Fisikawan lain yang memiliki indeks-h tinggi adalah pemenang Nobel Steven Weinberg (h = 88) dan Frank Wilczek (h = 68), sedangkan kosmolog Stephen Hawking berada di urutan berikutnya (h = 62).

Jorge Hirsch memperkirakan bahwa nilai h antara 10 dan 12 merupakan nilai rata-rata yang diperoleh seorang associate professor di Amerika, sedangkan professor penuh umumnya akan mencapai nilai h =18. Penerima fellowship Himpunan Fisika Amerika biasanya memiliki indeks antara 15 hingga 20, sedangkan anggota US National Academy of Science umumnya memiliki h = 45.

Selain indeks-h, Hirsch juga mendefinisikan indeks-m yang dapat dipakai untuk membandingkan ilmuwan-ilmuwan dengan tingkat senioritas berbeda. Indeks ini dapat diperkirakan melalui perhitungan sederhana berikut. Jika seorang ilmuwan telah bekerja selama n tahun, maka indeks-h yang ia peroleh umumnya akan sebanding dengan perkalian antara m dan n. Dengan demikian, seorang ilmuwan dengan m = 1 (memiliki indeks-h = 20 setelah 20 tahun) dapat dikatakan sebagai ilmuwan yang berhasil. Nilai m = 2 (memiliki indeks-h = 40 setelah 20 tahun) hanya dapat ditemui pada ilmuwan-ilmuwan yang bekerja pada universitas atau institusi penelitian papan atas di Amerika. Nilai m = 3 atau lebih (memiliki indeks-h = 60 atau lebih setelah 20 tahun) benar-benar menunjukkan ilmuwan yang unik.

Jorge Hirsch juga menyelidiki hubungan antara penerima Nobel fisika dalam 20 tahun terakhir dengan indeks-h. Hasilnya diperlihatkan pada Gambar 1.


Gambar 1. Jumlah penerima hadiah Nobel dalam dua puluh tahun terakhir sebagai fungsi dari indeks-h.

Jelas terlihat dari gambar tersebut bahwa penghargaan Nobel tidak pernah diperoleh ilmuwan melalui “satu pukulan keberuntungan”, melainkan melalui serentetan penelitian yang berkesinambungan yang secara kumulatif menghasilkan indeks-h lebih besar dari 25.

Setelah dicoba pada komunitas fisika, pencetus indeks ini juga menggunakan idenya dalam bidang biologi dan biomedis. Di sini ia mendapatkan Solomon H. Snyder, seorang professor farmakologi pada Departemen Neuroscience di Johns Hopkins University, sebagai ilmuwan dengan indeks-h tertinggi (191).

Jika anda ilmuwan yang serius, mengapa anda tidak mencoba menghitung indeks-h anda?
(Terry Mart, pengajar pada Departemen Fisika, FMIPA UI)