Manajemen Riset Kita Salah!

[Kompas Rabu 9 Maret 2005]



Hari Sabtu 5 Februari 2005 saya termasuk orang yang beruntung. Dua artikel penelitian saya dinyatakan sebagai artikel yang memperoleh penghargaan Jurnal Internasional dari Universitas Indonesia (UI). Penghargaan yang diberikan bersamaan dengan Dies Natalis UI ke 55 itu membuat saya berbahagia sebentar, namun ketika rombongan Rektor beserta para Guru Besar UI yang cukup panjang (melebihi panjangnya lantunan "Gaudeamus Igitur" yang dilantunkan oleh Paduan Suara UI) melintas di depan saya, saya merasa getir. Betapa tidak, saya hitung jumlah profesor yang melintas di depan saya lebih dari dua puluh orang, namun jumlah paper yang mendapat penghargaan internasional kali ini tidak lebih dari 20 buah. Apa yang terjadi dengan mesin ilmiah UI yang sudah berusia 55 tahun tersebut? Seingat saya, jumlah tersebut relatif tidak berubah dibandingkan dengan 8 tahun yang lalu, pada saat saya menerima penghargaan serupa untuk pertama kalinya.

Dalam usia saya yang menjelang 40 tahun, saya sering mendengar perkataan bahwa life begins at fourty. Jika UI adalah seorang manusia, maka ia adalah seorang manusia yang seharusnya telah mapan, ia telah 15 tahun lebih tua dari para beginners. Apalagi UI telah mencanangkan bahwa pada tahun 2010 Universitas terbesar ini akan menjadi sebuah Research University. Namun dengan relatif konstannya jumlah publikasi internasional, menurut hemat saya cita-cita itu sulit untuk dicapai. Saya kembali teringat institut tempat saya mendapat gelar doktor hampir sepuluh tahun yang lalu. Setiap tahunnya, institut ini menghasilkan lebih dari 100 paper yang dipublikasi di jurnal internasional. Itu pun tidak termasuk prosiding konferensi yang jumlahnya dapat melebihi angka tersebut. Universitas yang menaunginya memiliki sekitar 10 insitut. Jadi dapat dibayangkan jumlah paper yang diproduksi universitas tersebut setiap tahunnya! Membandingkan angka-angka tersebut menimbulkan kengerian di dalam benak saya, takut-takut jika Research University yang dicanangkan hanya akan menjadi fatamorgana semata.

UI bukanlah satu-satunya contoh persoalan dunia ilmiah kita. Saya bayangkan bahwa fenomena semacam ini terjadi merata di Indonesia. Jika anda tidak percaya, intip saja berapa jumlah karya ilmiah anak bangsa ini melalui mesin pencari Google, Yahoo, Altavista, dan lain sebagainya. Jadi, tentu ada yang salah pada bangsa ini dalam menata dunia ilmiahnya. Kemungkinan, kesalahan tersebut sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu, pada saat UI masih muda atau belum lahir.

Manajemen Riset

Kesalahan dalam manajemen riset kemungkinan besar berakar dari budaya kita, yaitu terlalu cepat ingin menjadi besar dan kaya, namun kita tidak menyadari bahwa apa yang kita lakukan hasilnya terlalu sedikit. Kita menyenangi acara-acara seremonial yang agung, tapi melupakan kerja keras di balik itu. Kita sering mengagungkan serta memimpikan anak bangsa mendapat hadiah Nobel, namun menampik fakta bahwa untuk itu diperlukan riset serius dalam jangka waktu lama. Keberhasilan suatu institusi riset sering dinilai dari banyaknya MOU yang dihasilkan, bukan dari publikasi internasionalnya. Budaya bangsawan-minded telah membuat masyarakat kita menyenangi berbagai gelar. Jika gelar kesultanan sekarang sudah dianggap kuno, maka gelar-gelar modern mulai banyak ditawarkan. Gelar doktor sudah mulai mudah untuk didapat, cukup kirimkan uang ke alamat tertentu, dan anda akan mendapatkan sertifikatnya. Si pemberi gelar tentu saja memasa-bodohkan pertanyaan apakah masyarakat akan mengakui gelar tersebut, toh si peminta gelar sudah dianggap cukup bodoh karena tidak mempermasalahkannya. Yang lebih parah lagi adalah gelar profesor. Setahu saya, profesor adalah jabatan. Jadi membeli gelar profesor sama saja dengan membeli gelar presiden, direktur, manajer, atau semacam itu. Sangat berbahaya jika ilmuwan kita terjebak dalam budaya ini.

Kembali ke manajemen riset, saya melihat orang mulai mengritik kinerja 100 hari menristek. Saya kira si pengritik telah berharap "terlalu banyak dan terlalu cepat" (TBTC), sementara menristek sendiri menyadari bahwa dirinya hanyalah Suparman, bukan Superman. Meski demikian, saya melihat bahwa manajemen yang diterapkan oleh menristek masih mengikuti pola lama yang mengikuti kegagalan masyarakat ilmiah kita. Hal ini saya sandarkan pada penetapan garis-garis besar riset unggulan atau strategis yang dilaksanakan oleh KMNRT. Apa yang ditetapkan adalah sesuatu yang TBTC pula.

Mari kita tengok apa yang menjadi tren riset sekarang, tidak lain adalah teknologi nano, teknologi informasi, dan genome. Memang ini adalah tren dunia, namun kita harus melihat apakah komponen utama penggerak riset, yaitu sumber daya manusia kita (bukan sumber dana) memiliki keunggulan di bidang tersebut. Tentu saja untuk melakukan riset kita harus memiliki sumber daya manusia. Namun, untuk dapat bersaing di dunia internasional, sumber daya manusia tersebut harus merupakan sumber daya unggul.

Sepanjang pengetahuan saya selama ini kita tidak pernah mempermasalahkan, apakah peneliti kita unggul di ketiga bidang tersebut. Dulu ketika bioteknologi sedang booming, maka ramai-ramai kita kesana tanpa mempertimbangkan apakah kita akan unggul di sana atau tidak. Lebih parah lagi, ketika riset harus mengarah pada suatu produk komersial yang dapat dijual, dengan asumsi bahwa dana riset dapat diperoleh dari sana. Saya kira anggapan seperti ini adalah anggapan yang juga TBTC. Apa yang saya lihat saat ini adalah masyarakat ilmiah kita belum memiliki budaya riset, jadi masih jauh dari sasaran komersial. Seharusnya, target membudayakan riset adalah target pertama dari KMNRT. Jika budaya ini telah muncul maka produk sampingan akan langsung dihasilkan dan produk komersial akan mengikuti dari belakang.

Peneliti Militan

Meski tidak mudah dibuktikan, negara kita sudah dianggap memiliki banyak kaum militan. Militan bukanlah suatu sifat yang jelek jika kita masukkan ke dalam dunia riset. Dalam kondisi infra-struktur dan keuangan yang serba terbatas tidak ada cara lain bagi pemerintah kita selain memperkerjakan para peneliti militan. Apa yang saya maksud dengan peneliti militan ini adalah peneliti yang sanggup hidup di bawah garis kemakmuran (bukan garis kemiskinan) sambil melakukan penelitian yang bertaraf internasional. Peneliti yang realistis dan pragmatis tentu saja hanya akan berhasil di negara maju, namun seorang peneliti militan akan menggunakan segenap cara untuk terus eksis dalam komunitasnya.

Syahdan, fisikawan Pakistan almarhum Abdus Salam pernah mengatakan bahwa salah satu kelemahan ilmuwan di negara berkembang adalah kurangnya ambisi untuk menguasai sains dan teknologi. Seorang peneliti militan tentu saja adalah seorang yang berambisi untuk menguasai satu bidang yang ia paling suka. Namun bagaimana menjaring para militan ini, sekaligus memperkirakan apakah kita unggul di satu bidang penelitian?

Proses yang dilakukan harus bersifat bottom-up. Selama ini penetapan riset unggulan dilakukan oleh para birokrat (top-down). Kalaupun melibatkan segelintir peneliti, maka hanya peneliti kalangan atas yang didengar. Sementara keinginan serta keunggulan mayoritas para peneliti yang berkutat di dalam laboratorium tidak pernah diketahui. Proses yang terjadi selama ini dapat diibaratkan membangun atap rumah tanpa mempedulikan tiang dan pondasinya. Agar dapat bersifat bottom-up pemerintah harus memfasilitasi pembentukan dan pertemuan (berupa workshop) para peneliti sebidang. Jika para peneliti sebidang sudah sering bertemu maka mereka dapat mengetahui dimana kekuatan mereka, dan informasi ini dapat diteruskan ke atas. Jadi fondasi penelitian yang kokoh dapat dibentuk. Riset unggulan tidak boleh hanya ditentukan dari kebutuhan mendesak bangsa atau negara, namun juga harus digariskan sesuai dengan keunggulan para peneliti di republik ini. Sebagai negara maju, Jepang misalnya, tentu saja membutuhkan pesawat-pesawat terbang komersial berukuran besar. Meski mereka memiliki teknologi dan sumber daya manusia untuk itu, mereka menyadari bahwa mereka kurang unggul untuk bersaing dengan Boeing, Mc Donnel Douglas, atau pun Airbus.

(Dr. Terry Mart, dosen pada Departemen Fisika, FMIPA UI, Depok)