Mendanai Riset Dasar

(Kompas, Senin, 5 September 2011)

Apakah anda termasuk pecandu facebook, twitter, youtube, atau selancar di internet? Atau anda pelanggan Kompas e-Paper? Jika ya, tahukah anda bahwa anda telah menggunakan jejaring lebar dunia (world wide web atau disingkat WWW) yang pertama kali ditemukan di laboratorium fisika nuklir Eropa CERN? Ya, memang ini adalah produk sampingan riset dasar yang tujuan utamanya adalah untuk memajukan pengetahuan manusia tentang jagat raya serta isinya. Hingga saat ini CERN yang menjadi pemimpin dunia untuk riset eksperimen fisika partikel telah menghasilkan banyak produk sampingan yang secara tidak disadari sudah dipakai masyarakat awam sekalipun.

Berbeda dengan riset aplikatif yang memiliki target pasti, riset dasar umumnya dilatarbelakangi oleh rasa ingin tahu (curiosity). Riset aplikatif dapat diartikan sebagai inovasi atau pengembangan dari suatu metode yang sudah ada, sedangkan riset dasar memiliki problem yang tidak dapat dipecahkan dengan metode atau teknologi yang tersedia saat ini. Jadi, riset aplikatif dapat dianalogikan sebagai pisau bermata satu, sedangkan riset dasar seperti pisau bermata dua. Di satu sisi riset dasar ingin menjawab keingintahuan manusia yang berarti memajukan pengetahuan, sementara di sisi lain riset dasar harus mengembangkan metode baru untuk menjawab keingintahuan tadi. Metode atau teknologi baru ini sering memiliki aplikasi revolusioner sifatnya tak terduga.

Sudah bukan rahasia lagi jika mayoritas pemberi dana, terutama sektor swasta, enggan turun tangan dalam hal riset dasar yang memiliki tiga sifat intrinsik yang tidak disenangi, yaitu penerapan hasil penelitian yang sifatnya tak terduga, rentang waktu antara penemuan dan penerapan yang sangat panjang, serta hasil temuan yang tidak dapat dipatenkan sehingga tidak akan membuat penemunya kaya.

Penerapan hasil riset dasar umumnya bersifat tak terduga serta tidak direncanakan. Namun temuan riset dasar banyak yang menyebabkan revolusi pemikiran, metode, teknologi, bahkan budaya dan politik. Ambil contoh penemuan WWW tadi yang didasari oleh kebutuhan fisikawan partikel untuk memecahkan masalah penelitian mereka melalui komunikasi data lewat komputer. Adalah Tim Berners-Lee yang berhasil memecahkan masalah ini pada tahun 1989 dengan membuat jejaring komunikasi komputer di CERN yang kini kita kenal sebagai WWW. Jika Mark Zuckerberg mengklaim bahwa facebook telah memiliki 750 juta anggota, maka jelas bahwa WWW telah menghubungkan lebih dari semilyar manusia melalui komputer desktop, laptop, tablet, ataupun telefon seluler. Selain berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi (diperkirakan meningkatkan sekitar 20% penjualan di sektor bisnis), jejaring ini juga telah mengubah budaya kaum muda melalui jejaring sosial semacam facebook dan twitter. Tidak cuma berhenti di situ, WWW juga telah memberi dampak luar biasa pada dunia politis, mulai dari penggalangan massa, penolakan terhadap satu kebijakan pemerintah, bahkan sudah ada beberapa tokoh masyarakat dan politis bermasalah karena mengunggah atau mengunduh gambar tak layak melalui jejaring ini. Dampak semacam ini tentu saja tidak pernah direncanakan dan tidak diduga oleh Berners-Lee ataupun peneliti riset dasar CERN.

Masalah kedua yang tidak disenangi oleh sektor swasta adalah panjangnya rentang waktu antara penemuan dan penerapannya. Jika WWW memerlukan waktu 10 tahunan untuk sampai ke sektor bisnis, penemuan jam atom yang semula ditujukan untuk menyelidiki keabsahan teori relativitas khusus Einstein memerlukan waktu yang lebih lama, hingga diketahui aplikasinya untuk GPS yang saat ini telah menjadi bisnis milyaran dolar. Selain jam atom, teori relativitas khusus dan umum Einstein tampaknya juga diperlukan, karena gerak relatif serta medan gravitasi bumi memengaruhi akurasi data GPS. Mungkin, yang memerlukan waktu lebih lama lagi adalah teori mekanika kuantum. Penemuan transistor, sel surya, dan energi nuklir tidak pernah akan terjadi jika teori kuantum tidak pernah lahir.

Masalah ketiga adalah yang paling sensitif di dunia bisnis, yaitu hasil temuan riset dasar merupakan public goods. Penjelasan tentang hukum alam beserta turunannya tidak dapat dipatenkan. Begitu juga dengan WWW yang tentu saja akan menghasilkan keuntungan milyaran dolar jika semua pemakai dikenakan biaya royalti. Berbeda dengan peneliti riset dasar yang berlomba-lomba memublikasikan temuan mereka, hasil-hasil riset aplikatif kebanyakan dipatenkan atau bahkan disembunyikan. Mantan direktur CERN Llewellyn Smith mengatakan bahwa hasil temuan riset dasar umumnya bermanfaat secara global dan tidak dapat ditangkap langsung oleh satu perusahaan saja. CERN yang berperan dalam penemuan WWW serta positron emission tomography (PET) di masa lalu, kini memimpin dalam bidang IT. Eksperimen pencarian partikel Higgs saat ini menghasilkan data satu petabyte (1000 gigabyte) per detik. Tentu saja sangat mustahil menyimpan semua data ini di dalam harddisk. Data tersebut harus diolah secara realtime, sehingga memunculkan teknologi grid-computing yang menangani gunungan data tersebut secara efisien serta mengalirkannya ke komputer-komputer super di muka bumi ini. Robert Aymar yang juga mantan direktur CERN sangat yakin jika di masa depan teknologi ini sangat diperlukan untuk keperluan riset bioinformatika, ramalan cuaca, eksplorasi minyak, dan penemuan obat.

Fakta yang sangat menarik adalah dari sekitar 10.000 pemercepat partikel yang ada di planet ini, hanya sekitar 100 yang dipakai untuk penelitian fisika partikel. Mayoritas sisanya dipakai di rumah sakit serta untuk tujuan medis lain. Lebih dari 90% radiasi sinkrotron yang dihasilkan oleh sinkrotron SPRING8 di Osaka, Jepang, dipakai oleh riset industri, farmasi, medis dan material. Penelitian fisika nuklir dan partikel hanya memanfaatkan sekitar 5% saja.

Karena hasilnya berbentuk public goods, riset dasar harus didanai pemerintah. Bagaimana jika dilepas ke sektor swasta? Analisis Llewellyn Smith menyatakan tidak bisa. Contoh yang paling bagus adalah Jepang, Korea Selatan dan Singapura yang diklaim sebagai negara yang berhasil mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan. Tentu saja sektor swasta di ketiga negara tersebut mengembangkan riset aplikatif yang dengan cepat mendorong industri. Namun analisis jumlah investasi dan pertumbuhan ekonomi di ketiga negara tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian mereka kurang efisien dibandingkan dengan Amerika. Penyebabnya adalah riset aplikatif yang tidak didukung oleh riset dasar, sehingga banyak input riset aplikatif yang belum dikuasai. Tentu saja problem ini segera terendus oleh Jepang dan Korea Selatan yang sejak dekade terakhir menggelontorkan dana besar-besaran untuk mengembangkan riset dasar. Hasilnya? Berita terakhir menguak isu bahwa salah satu penyebab mundurnya ekonomi Amerika saat ini adalah akibat generasi mudanya yang kalah bersaing dengan generasi muda Asia dalam peguasaan sains dasar! Apakah Indonesia termasuk Asia dalam hal ini?

(Terry Mart, staf pengajar pada Departemen Fisika, FMIPA, Universitas Indonesia)