professor Profesor Riset, Profesor Pendidikan dan Profesor Pengabdian Masyarakat

Belum dipublikasi di media cetak

professor Cita-citaku, ingin jadi profesor, bikin pesawat terbang, kubuat sendiri”. Itulah bait pertama lagu yang dinyanyikan oleh Joshua yang cukup populer beberapa tahun lalu. Lagu ini tampaknya merefleksikan bayangan masyarakat awam tentang profesor, sosok yang dianggap serba tahu dan serba bisa, seperti membuat pesawat terbang lalu sekaligus menjadi pilot pesawat tersebut. Padahal, setahu saya, tidak pernah terdengar seorang profesor membuat pesawat terbang sendirian ataupun menggantikan tugas seorang pilot. Malahan, seorang profesor (yang benar-benar profesor) biasanya memiliki pengetahuan yang sangat sempit namun sangat mendalam. Meski demikian, tampaknya pemerintah cukup tanggap dengan hal ini. Tanggal 5 Januari lalu melalui SK Menpan No. 128/2004 sebanyak 148 Ahli Peneliti Utama (APU) dilantik menjadi Professor Riset Indonesia. Alasan pertama, seperti dikatakan ketua LIPI, pemberian gelar tersebut merupakan insentif non-material sebagai penghargaan terhadap para peneliti. Alasan kedua, seperti ditulis oleh Prof. Rahardi Ramelan di Republika Online 21 Desember 2005, gelar APU tidak dikenal oleh masyarakat. Hanya profesor yang dikenal sebagai orang pintar, seperti lagunya Joshua. Seorang kolega saya yang bekerja di sebuah lembaga penelitian yang memiliki cukup banyak profesor riset mengatakan kepada saya bahwa para peneliti tersebut merasa kurang pe-de dengan gelar APU.

Beberapa kolega saya yang bekerja di universitas menanyakan adakah profesor riset itu pada hakikatnya? Apakah ijtihad pemerintah RI ini merupakan yang pertama di dunia? Mengapa Mendiknas, yang salah satu tugas utamanya mengatur semua pemakaian gelar akademis, tidak dilibatkan di sini? Bukankah profesor di Perancis artinya guru, baik guru TK hingga mahaguru? Pertanyaan-pertanyaan ini akhirnya mendorong saya untuk menulis sejauh mana relevansi serta konsekuensi ijtihad pemerintah kita kali ini.


Relevansi


Kata professor berasal dari bahasa Latin yang berarti seseorang yang mengklaim dirinya sebagai seorang ekspert. Jika di negara kita hanya dikenal satu jenis profesor, maka di perguruan tinggi di Amerika (pemerintah Amerika sejauh pengetahuan saya belum pernah menghadiahkan gelar profesor kepada para peneliti di lembaga penelitiannya) dikenal beberapa jenis profesor. Di sini istilah tenure berkaitan erat dengan gelar tersebut.


Seorang dosen yang memulai karirnya di universitas akan masuk sebagai assistant professor, suatu posisi yang belum termasuk ke dalam posisi permanen yang disebut tenure. Posisi assistant professor bersifat sebagai masa percobaan bagi dosen tersebut. Jika universitas tempat dia bekerja merasa yakin sang dosen dapat mengajar dan meneliti dengan baik serta dapat mengundang cukup banyak grant penelitian ke universitas tersebut, maka dalam waktu antara 3 hingga 7 tahun dia akan diangkat menjadi associate professor, posisi yang sudah permanen (tenure). Jika prestasinya cukup bagus maka dalam waktu 5 hingga 10 tahun dia dapat diangkat sebagai (full) professor, sebuah jabatan paling senior di dalam konsep tenure tersebut. Selain tiga posisi yang merupakan bagian dari tenure track tersebut, dikenal juga istilah visiting professor (profesor tamu), professor emeritus (profesor yang seharusnya sudah pensiun, namun masih memiliki kesempatan untuk mengajar dan meneliti), adjunct professor (profesor yang memiliki posisi di universitas lain, namun diminta bekerja paruh waktu di sebuah universitas), honorary professor (diberikan kepada seseorang yang sangat berjasa pada pengembangan sebuah universitas), serta research professor (profesor yang tidak memiliki tugas mengajar, namun hanya melakukan riset). Seorang research professor sangat bernilai bagi sebuah universitas, karena umumnya ia dapat memasukkan begitu banyak grant riset bagi universitas tersebut. Rata-rata seorang research professor menggaji dirinya sendiri melalui grant riset yang ia dapatkan.


Di Eropa daratan seperti Jerman definisi profesor riset tidak dikenal. Posisi profesor benar-benar merupakan jabatan. Dengan demikian jika jabatan tersebut tidak tersedia, dosen yang mengajar tidak pernah bisa menjadi profesor. Profesor tersebut dikenal sebagai Professor Ordinarius, yang dahulu dikenal sebagai Professor C4. Setelah reformasi di bidang pendidikan, jabatan ini sekarang dikenal sebagai Professor W3. Di samping itu juga dikenal Professor Extraordinarius, yang tidak memegang jabatan atau menjadi anggota dari Professor Ordinarius. Professor Extraordinarius dulu dikenal sebagai Professor C3 (atau Professor W2 saat ini). Selain kedua jenis profesor tersebut juga dikenal Fachhochsculprofessor yang mengajar di Fachhochschule (setingkat dengan akademi), Professor Emeritus, dan Juniorprofessor. Secara tradisi sebelum menjadi profesor seorang calon harus mengikuti program habilitation, semacam thesis doktor kedua yang lebih sulit. Karena habilitation, yang semula dianggap sebagai quality control terbaik bagi calon profesor, memakan waktu cukup lama proses ini kini lebih dipandang sebagai penghalang dosen berprestasi untuk berkarir di universitas. Dari sini muncullah definisi Juniorprofessor yang dapat mem-by-pass prosedur habilitation.


Negara-negara lain pada dasarnya mengacu ke salah satu sistem tersebut. Dengan demikian cukup jelas bahwa definisi profesor riset memang ada dan hanya ada di universitas di Amerika yang menandakan bahwa profesor riset masih merupakan gelar akademis. Meski demikian, profesor riset di lembaga penelitian sejauh ini hanya dikenal di Indonesia.


Konsekuensi

Pada dasarnya, selama tujuannya baik tentu saja
ijtihad pemerintah ini sah-sah saja atau bahkan patut dipuji. Bagi profesor di perguruan tinggi, hikmah yang dapat dipetik adalah semacam teguran terhadap kenyataan banyaknya profesor (pendidikan) yang telah meninggalkan dunia riset (yang sebenarnya). Kini muncul sosok profesor baru yang tugasnya hanya riset. Apalagi jika hal ini dikaitkan dengan peningkatan kinerja seorang peneliti di lembaga penelitian, seperti yang diharapkan oleh pak Rahardi. Namun jika setelah mendapat gelar tersebut prestasi risetnya tidak maju, apalagi sampai berhenti riset, sebaiknya gelar tersebut dicabut kembali karena toh tidak memenuhi harapan pak Rahardi. Selain itu, sebagai konsekuensinya, pemerintah harus secara konsisten memberikan juga gelar Profesor Pengabdian Masyarakat Indonesia kepada, misalnya, staf pengajar universitas yang karena kesibukan pengabdiannya tidak sempat mengajar dan meneliti. Namun, sebagai masyarakat timur, sebaiknya sebelum kita memberikan gelar-gelar tersebut kita tanya dulu Mendiknas, apakah gelar akademik ini boleh diberikan setiap departemen atau menteri. Jika Mendiknas memberi lampu hijau, maka gelar profesor Tridharma Perguruan Tinggi di negara ini menjadi lengkap. Suatu prestasi yang belum pernah dimiliki negara lain
.


(Terry Mart, pengajar pada Departemen Fisika, FMIPA UI)