Selamatkan UI, Selamatkan Indonesia

(Kompas Sabtu, 24 September 2011)

Versi Kompas

"Pendidikan adalah kebutuhan sekaligus investasi terpenting bagi masa depan tiap individu maupun bangsa ini"

Hasil riset terbaru terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di sepuluh negara anggota ASEAN menguak kondisi Indonesia yang sangat memprihatinkan. Riset ini menemukan bahwa Singapura merupakan negara berpengetahuan termaju di Asia Tenggara, diikuti oleh Malaysia, Thailand, dan Vietnam, sementara Indonesia berada di bawah keempat negara tersebut. Bahkan, dari sepuluh negara ASEAN yang dikaji ironisnya Indonesia dan Filipina merupakan dua negara yang perkembangan ilmu pengetahuannya paling lambat. Sungguh menyedihkan atau bahkan memalukan!

Tahun tujuhpuluhan kita bangga bisa meminjamkan tenaga dosen kita ke Malaysia untuk memperbaiki kinerja perguruan tinggi (PT) di sana, namun dua dekade kemudian Malaysia sudah berani menawarkan studi pascasarjana untuk putera-puteri terbaik Indonesia. Sejak dua dekade lalu kita sudah mulai meneriakkan kekhawatiran bahwa kita sudah ditinggal oleh Malaysia dan Thailand dalam hal ilmu pengetahuan. Kini kita harus bisa menerima kenyataan bahwa Vietnam pun sudah mulai lebih unggul dari kita. Mungkin, satu atau dua dekade lagi Timor Leste pun akan berani menawarkan kepada putera-puteri terbaik kita untuk melanjutkan studi pasca sarjana di sana. Nyata sekali kalau Indonesia mengalami kemunduran dalam bidang ilmu pengetahuan. Satu persatu negara tetangga meninggalkan kita dalam hal ini. Karena ilmu pengetahuan merupakan komponen penting peradaban bangsa, jika tidak segera dibenahi maka Indonesia saat ini secara pasti sedang menuju kehancuran peradaban! Saya berani mengatakan demikian karena tren dari tahun ke tahun memperlihatkan bukti yang jelas. Ibarat kapal Titanic yang sedang mengarah ke sebuah gunung es, perlu tindakan cepat untuk mengatasinya. Salah satu cara yang paling mungkin adalah mereformasi kinerja ilmiah PT.

Sangat disayangkan tidak banyak perhatian ditujukan ke sini. Penyebabnya bisa saja karena mayoritas politikus kita sedang asyik menjadi selebritas di panggung politik sementara pemerintah terlalu fokus pada masalah korupsi dan kemiskinan yang memang sangat menganggu citra. Di lain pihak, mungkin sekali para peneliti dan dosen PT sudah merasa nyaman dengan keadaan sekarang, apalagi jika melihat kondisi ekonomi secara makro yang kian membaik. Namun, harus diingat juga bahwa kemajuan ekonomi ini bukan karena berbasis-pengetahuan seperti pada negara maju, namun cenderung karena berbasis-keberuntungan.

 Menyelamatkan UI menyelamatkan Indonesia

Tidak dapat dipungkiri bahwa Universitas Indonesia (UI) merupakan institusi penting dalam pemecahan masalah ini karena banyak indikator internasional yang memperlihatkan kontribusi UI sangat signifikan. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir ini UI telah memperlihatkan kinerja yang sangat baik. Selain pembangunan fasilitas fisik yang telah mengubah peta kampus Depok, UI telah membelanjakan hampir 5% pemasukannya untuk aktivitas penelitian.

Kita semua sadar bahwa PT di Indonesia tidak sebanding dengan PT di negara maju sekelas Harvard University yang membelanjakan 20% pemasukannya untuk riset, sementara semua stafnya bertanggung jawab penuh untuk riset, pengajaran, serta struktural, sedangkan mahasiswanya mampu membayar uang kuliah puluhan ribu dolar per semester. Sejarah panjang PT kita telah melahirkan dosen-dosen yang tidak semua tertarik untuk fokus pada penelitian. Sebagian dosen tertarik hanya untuk fokus pada pengajaran, sementara sebagian lain bercita-cita meniti karir struktural. Oleh karena itu, pembentukan dosen inti penelitian, pengajaran dan struktural di UI merupakan strategi jitu yang merupakan kompromi terhadap situasi UI saat ini. Dengan sekitar 200 dosen inti penelitian yang direkrut, 150 publikasi di jurnal internasional dapat diharapkan per tahun. Tentu saja proses ini tidak gratis sehingga membutuhkan reformasi dalam banyak hal, termasuk tata kelola kampus. Ini merupakan ujian pertama karena reformasi bukanlah barang nyaman bagi mereka yang sebelumnya sudah merasa mapan di UI.

Keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengembalikan status UI menjadi PT negeri (PTN) juga merupakan ujian berat, karena otonomi PT merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi jika kita ingin mereformasi kinerja ilmiahnya. PT yang baik akan menarik minat tenaga akademis serta peserta didik yang brilian, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Tentu saja hal ini sulit dicapai melalui paradigma pegawai negeri, dimana proses reward and punishment secara langsung sulit diterapkan. Malangnya, kampus rakyat yang murah-meriah untuk semua merupakan harapan kebanyakan orang jika UI menjadi PTN. Padahal, wacana kontribusi sumbangan yang adil, dimana yang mampu mensubsidi yang kurang mampu, yang seharusnya diangkat, sementara pihak pemerintah harus menggelontorkan sebanyak mungkin beasiswa untuk mahasiswa berprestasi namun secara ekonomi kurang mampu. Bahkan, sebagian dana riset yang dikelola PT juga dapat diarahkan untuk tujuan ini melalui beasiswa pascasarjana. Masyarakat pun harus disadarkan bahwa pendidikan yang baik itu tidaklah murah, namun ia juga bukan barang mewah. Pendidikan adalah kebutuhan sekaligus investasi terpenting bagi masa depan tiap individu maupun bangsa ini.

Akhirnya, kemelut internal yang intinya berpangkal dari pengalihan status UI merupakan ujian paling kritis. Semua ujian ini tampak datang secara bertubi-tubi, sementara dalam masa transisi ke PTN yang sangat singkat UI malah diharapkan memberi kontribusi lebih besar dalam mencegah kehancuran peradaban bangsa. Saat gunung es sudah di depan mata, tentu saja sangat tidak logis, apalagi patriotis, jika para penumpang kapal mewacanakan penggulingan nahkoda. Sepatutnya, semua penumpang memastikan bahwa nahkoda memiliki kekuatan penuh untuk menghindari gunung es tersebut. Duduk bersama, mendiskusikan cara terbaik untuk keluar dari masalah besar ini dengan kepala dingin adalah yang kita perlukan untuk menyelamatkan kapal. Jika UI gagal, bangsa ini juga yang menanggung akibatnya.

(Terry Mart, staf pengajar Fisika UI, anggota Majelis Penelitian Dewan Pendidikan Tinggi)