dies_07 UI Menuju Universitas Riset Berkelas Dunia

Belum dipublikasi di media cetak

Setiap kali mendapat kesempatan untuk menghadiri acara Dies Natalies di UI saya selalu mendapatkan ide untuk melontarkan kritik keras terhadap universitas terbesar di Indonesia ini, serta terhadap perangkatnya, plus keboborokan manajemen riset kita (lihat misalnya: "Manajemen Riset Kita Salah!", Kompas Rabu 9 Maret 2005). Namun hari Sabtu 3 Februari lalu tampaknya lain. Mengapa?

Seperti layaknya seorang anak nakal, di awal pembukaan acara, dari kejauhan saya mulai menghitung jumlah guru besar (GB) yang memasuki ruang Balairung dalam iring-iringan prosesi yang dipimpin oleh Rektor UI. Mengapa jumlah GB penting? Sebab di negara-negara maju kelompok GB inilah yang bertanggung jawab sebagai ujung tombak riset di universitas. Selanjutnya saya mulai dengan tekun menyimak pidato pembukaan Rektor yang melaporkan kemajuan yang dicapai UI selama satu tahun ini. Intinya tidak lain adalah kebanggaan UI yang menduduki ranking ke 250 dari sekitar 520 universitas sedunia yang didata oleh QS-Network, suatu jaringan informasi pendidikan dan karir dunia, yang dimuat dalam The Times Higher Education Supplement (THES), sebuah surat kabar berbasis di London.

Ranking universitas sedunia versi THES untuk tahun 2006 mencantumkan 4 universitas dari Indonesia, masing-masing adalah UI (urutan 250), ITB (urutan 258), UGM (urutan 270), serta Undip pada urutan 495. Dengan posisi ke 250 ini, UI berhasil mengalahkan beberapa universitas yang relatif cukup terkenal di Amerika dan Eropa. Kriteria pembuatan ranking ini didasarkan pada kualitas riset (60%), "employability" lulusan (10%), "international outlook" (10%), serta rasio antara mahasiswa dan dosen (20%). Tampak jelas kualitas riset sangat menentukan dalam hal ini. Kualitas riset ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu "peer review" dan jumlah kutipan paper ilmiah per jumlah staf akademik universitas. Untuk mengisi bagian "peer review", sekitar 3700 akademisi sedunia telah memberikan pendapatnya melalui pengembalian kuesioner, sedangkan jumlah kutipan diperoleh dari perusahaan Thomson Scientific yang sebelumnya dikenal sebagai Institute for Science Information (ISI), pencetus Faktor Dampak Jurnal (Journal Impact Factor) yang cukup kontroversial.

Namun bagi saya, bukan ranking di atas yang membuat UI menjadi "lain" tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saya masih ingin menggunakan kriteria riset yang saya gunakan dua tahun lalu, yaitu jumlah publikasi internasional dengan penulis pertama staf UI yang mendapatkan penghargaan, dibandingkan dengan jumlah GB dalam iring-iringan Rektor. Sejauh saya bisa mengingat, sejak tahun 1997 hingga tahun kemarin, jumlah penerima penghargaan tersebut berfluktuasi disekitar angka 20. Namun, tahun ini UI memberikan penghargaan kepada 70 stafnya untuk publikasi pada jurnal internasional, disamping puluhan penghargaan untuk staf yang mendapatkan hak paten dan hak kekayaan intelektual!

Angka-angka di atas tentu saja melebihi jumlah GB yang duduk di podium di belakang Rektor, malahan beberapa diantaranya turut juga menerima penghargaan. Tampaknya UI tidak lagi main-main dengan kata-kata "Menuju Universitas Riset Berkelas Dunia".

Tetap saja mengeritik


Meski sebagai warga sivitas akademika UI saya turut bangga, dengan semangat untuk selalu memperbaiki dan mengingatkan, saya masih menyimpan beberapa kritik membangun. Pertama, saya kira sebaiknya UI tidak terlena dengan ranking tersebut. Saya melihat mayoritas universitas dan mahasiswa di negara-negara maju tidak terlalu peduli dengan hal tersebut. Saya sendiri tidak habis pikir, mengapa universitas tempat saya mendapat gelar Doctor rerum naturalium di Jerman (Universitaet Mainz) menempati ranking ke 370, padahal dua institut Max Planck yang cukup bergengsi (Max-Planck-Institut fuer Polymerforschung dan Max-Planck-Institut fuer Chemie) dan sebuah akselerator partikel untuk fisikawan nuklir berada di dalam lingkungan universitas tersebut. Benarkah saya telah menempuh program S3 di universitas yang kualitasnya lebih rendah dari UI? Wallahu'alam. Selain itu saya masih melihat banyak universitas yang memiliki komitmen riset dan atmosfir akademik yang jauh lebih baik dari UI, namun berada di bawah UI pada ranking versi THES.

Selanjutnya, apa yang masih saya sayangkan adalah mayoritas publikasi internasional yang mendapatkan penghargaan berasal dari staf perorangan, bukan dari kelompok riset yang berada di bawah naungan UI. Hal ini mencerminkan bahwa riset-riset tersebut masih bersifat temporer. Argumen ini dapat dengan mudah dibuktikan dari daftar penerima penghargaan sebelumnya, yang mayoritas berganti-ganti setiap tahun. Tampaknya hal ini diakibatkan oleh belum sempurnanya atmosfir akademik di lingkungan UI, sehingga kelompok-kelompok riset belum banyak terbentuk. Tanpa kelompok-kelompok riset, semua penelitian bersifat temporer semata, hanya ada selama “sang peneliti” masih memiliki motivasi riset dan tidak dapat "ditularkan" pada anggota staf lainnya. UI seharusnya mulai mendorong para stafnya untuk membentuk cluster-cluster riset, misalnya melalui program insentif riset. Tahun lalu, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI sudah mencoba inisiatif ini dan tampak memberikan output yang cukup signifikan.

(Terry Mart, fisikawan UI)


professor