KONTRIBUSI ILMIAH DARI NEGARA BERKEMBANG:
ANTARA IDEALISME dan KENYATAAN
Terry Mart
(Republika 2-3 Februari 1996)

 

PENGANTAR

Melesatnya laju perkembangan teknologi informasi telah mengubah sistem pendokumentasian hasil-hasil penelitian ilmiah di dunia. Dengan bantuan teknologi informasi yang modern informasi dan data hasil penelitian dapat secara kilat disebarkan ke masyarakat ilmiah di mancanegara. Ilmuwan di negara berkembang akan semakin jauh tertinggal di belakang jika tetap diam sebagai spektator. Informasi ilmiah dari negara berkembang tenggelam dibalik ratusan atau ribuan hasil penelitian lain dari negara industri. Namun beberapa ilmuwan di negara berkembang mencurigai adanya perasaan superioritas dari para editor jurnal-jurnal ilmiah top dunia, yang menganggap hasil penelitian dari negara berkembang selalu berkualitas rendah, sebagai penghalang masuknya informasi ilmiah dari negara berkembang. Secara tidak langsung mahasiswa Indonesia di luar negeri mulai melihat gelagat ini dan mulai menggelar program antisipasinya. Tulisan ini memuat tiga topik yang saling terkait, masalah yang dihadapi oleh ilmuwan dari negara berkembang untuk ikut andil dalam dunia informasi ilmiah internasional, pengaruh perkembangan teknologi informasi terhadap publikasi dan dokumentasi ilmiah, dan kaitannya dengan kegiatan mahasiswa serta ilmuwan kita.
 

EKSISTENSI ILMUWAN NEGARA BERKEMBANG

Seorang ilmuwan yang telah merampungkan satu proyek penelitian dan memperoleh temuan baru di dalam penelitiannya tentu saja ingin agar hasil penelitiannya itu dapat diketahui oleh orang banyak. Untuk itu dia harus mengirimkan hasil penelitian tersebut ke salah satu majalah ilmiah yang tepat untuk digandakan dan disebar ke seluruh perpustakaan di mancanegara. Inilah salah satu tujuan publikasi ilmiah. Hasil penelitian memang selayaknya diketahui oleh masyarakat (ilmiah) agar dapat selekas mungkin dikembangkan oleh peneliti lain atau di aplikasikan dalam bentuk teknologi baru guna kesejahteraan masyarakat.

Ilmuwan tadi akan mendapatkan insentif berupa hak-cipta ("copyright") yang meski tidak sejauh hak-paten, merupakan point positif baginya. Di samping itu, publikasi dimaksudkan juga sebagai dokumentasi. Mungkin hasil peneli tian seseorang tampak tidak terlalu penting saat ini, tetapi siapa tahu tahun depan, sepuluh atau dua puluh tahun kemudian muncul ilmuwan baru yang dapat menangkap ide jenius yang tersirat di dalam hasil penelitian tadi. Publikasi juga memiliki dampak positif lain seperti memperkenalkan sang ilmuwan di media informasi ilmiah. Cukup banyak ilmuwan yang memiliki kesulitan berkomunikasi dalam seminar namun dapat menuangkan idenya dengan cemerlang di dalam sebuah paper.

Publikasi dan dokumentasi merupakan dua hal yang menyatu yang selalu mendampingi dan juga menentukan kelangsungan karir serta eksistensi seorang ilmuwan di dalam masyarakat ilmiah. Seorang doktor yang melamar jabatan atau posisi post-doctroral atau peneliti di suatu institusi tentu saja harus menunjukkan latar belakang pendidikannya serta publikasi hasil-hasil penelitiannya. Untuk dapat memperoleh "grant" penelitian dari pemerintah, seorang professor lazimnya akan mengajukan proposal lengkap dengan hasil-hasil riset sebelumnya yang telah dipublikasi di berbagai jurnal ilmiah.

Tak pelak lagi, publikasi riset sebagai cerminan kontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan sangat menentukan kelangsungan karir seorang ilmuwan. Namun, tidak mudah saat ini untuk mempublikasikan hasil riset di jurnal-jurnal yang sudah mapan. Tidak seperti di waktu Newton mempubli kasikan "Principia"nya di tahun 1687, atau sewaktu Einstein membeberkan efek foto listrik lebih dari 70 tahun lalu, saat ini ratusan atau ribuan paper ilmiah dari berbagai disiplin ilmu muncul setiap harinya, siap untuk dipublikasi atau ditolak editor jurnal. Oleh sebab itu editor jurnal menggunakan sistem penjurian untuk menyaring atau mendeteksi jurnal yang baik dan menolak jurnal yang dianggap tidak memberikan sumbangan ilmiah.

Meledaknya jumlah paper dan menjamurnya jurnal ilmiah memunculkan beberapa perusahaan database yang bergerak meneliti dan mengumpulkan data-data dari sekitar 70.000 jurnal yang terbit di dunia. Salah satu perusahaan database ini adalah Institute for Science Information (ISI) yang berkantor di Philadephia, USA. Perusahaan ini mengeluarkan suatu tabel dengan nama "Science Citation Index" (SCI) yang mengurutkan rangking sekitar 3.300 jurnal pilihan. Rangking tertinggi menunjukkan seringnya jurnal tersebut dikutip oleh ilmuwan sebagai referensi dalam suatu paper, sebaliknya rang king terrendah menunjukkan jarangnya atau bahkan tidak pernahnya jurnal tersebut dijadikan acuan oleh ilmuwan.

SCI yang dikeluarkan ISI pada tahun 1994 menempatkan USA di urutan teratas diikuti oleh Jepang, Inggris, Jerman dan Perancis. Sangat menyedihkan meli hat urutan Indonesia yang terletak jauh dibawah negara-negara seperti Malay sia, Thailand, Nigeria, Kenya, dan Filipina. Bahkan Indonesia masih di bawah negara-negara yang tidak kita perhitungkan semula seperti Zimbabwe, Senegal, Colombia, dan Sri Lanka. Urutan ini mencerminkan jarangnya paper ilmiah yang dimuat jurnal Indonesia dikutip oleh para ilmuwan, atau dengan kata lain paper-paper ilmiah yang terbit di dalam negeri kita masih diabaikan oleh peneliti-peneliti asing, atau mungkin juga jumlah jurnal kita luar biasa sedikit.

Meski demikian, banyak ilmuwan dari negara berkembang berkeberatan atas kriteria yang diterapkan oleh ISI. "ISI hanya meneliti jurnal yang terdaftar di perusahaan mereka, sedangkan kebanyakan jurnal kami tidak masuk ke dalam daftar," keluh ilmuwan Brazil. Tentu banyak alasan kuat mengapa 70 persen jurnal di negara-negara Amerika Latin tidak dapat masuk ke dalam daftar. Untuk masuk ke dalam SCI, jurnal harus terbit "on-time". Setiap artikel yang tidak menggunakan bahasa Inggris, harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Tambahan lagi, jurnal harus membayar uang langganan sebesar US $10.000 atau sekitar Rp. 20 juta.-

Sudah menjadi anggapan umum bahwa perpustakaan di negara-negara barat enggan untuk berlangganan jurnal dari negara dunia ketiga, jadi wajar-wajar saja jika masalah kutipan referensi ini dianggap para ilmuwan negara berkembang sebagai tolok ukur yang tidak fair. Namun hal ini dibantah oleh seorang analis ISI, "Jika penemuan penting terjadi di negara berkembang, tentu semua ilmuwan dari negara maju akan mencatatnya di dalam referensi paper mereka." 

Tentu saja hal ini dibantah kembali oleh para peneliti dari negara Amerika Latin. Mereka mengambil contoh kasus kolera yang saat ini mewabah di Meksiko. Peneliti di Meksiko menemukan sejenis kuman kolera baru, namun jurnal inter nasional menolak paper mereka dengan alasan kolera bukan merupakan topik yang hangat saat ini. Tapi, bagaimana seandainya kuman tadi mewabah di Texas dan California, tantang mereka. Tentulah para peneliti USA akan sibuk menulis masalah kolera di jurnal-jurnal mereka.

Beberapa ahli menyadari bahwa ilmuwan di negara berkembang terjebak dalam lingkaran setan. Jika mereka menemukan sesuatu yang baru dan menarik, tentu saja mereka akan mengirimkan hasil riset ke jurnal-jurnal internasional yang prestige. Lagipula, sistem penghargaan di negara berkembang memberikan point yang lebih tinggi untuk publikasi di jurnal top dunia, dibandingkan publikasi di dalam negeri. Dengan demikian jurnal dalam negeri tidak akan memiliki kans untuk dikutip oleh para peneliti asing.

Pada kenyataannya banyak juga ahli di negara berkembang yang menyadari rendahnya kualitas mayoritas jurnal mereka. Di India contohnya, hanya sekitar 20 persen dari 1.500 jurnal yang terbit menerapkan sistem penjurian untuk menyaring paper yang tidak berbobot ilmiah. Dari sekitar 400 jurnal yang terbit di Brazil, semuanya menerapkan sistem penjurian yang lunak atau bahkan sama sekali tanpa proses penjurian.

Ribut-ribut mengenai kutip-mengutip paper ini juga telah menguak adanya anggapan bahwa para juri dan editor jurnal-jurnal top lebih suka untuk menolak paper dari negara berkembang. Atau meskipun paper tadi berhasil menembus seleksi juri, kolega mereka dari negara maju enggan untuk mengutip paper tadi sebagai referensi. Para editor jurnal menolak isyu ini, namun beberapa saintis negara maju membenarkan adanya bias tersebut. C. N. R. Rao, presiden Jawaharlal Nehru Center for Advanced Scientific Research di riset di jurnal-jurnal top dunia selama hampir 40 tahun, toh bias ini tetap dia rasakan jika dia mengirimkan papernya ke salah satu jurnal.

Tampaknya, alamat atau lokasi peneliti pun menjadi sasaran bias ini. Seorang peneliti dari Meksiko menceritakan, tatkala dia masih menjadi warga Boston USA dia bisa mempublikasikan hasil risetnya dengan mudah. Kemudian dia pindah ke Bonn, Jerman, dan masih bisa menulis dua paper di jurnal "Nature". Namun, setelah dia kembali ke Meksiko meski dengan pengalaman dan kematangan yang lebih dari sebelumnya, paper hasil risetnya segera ditolak oleh editor meski pada jurnal yang sama. Mungkin banyak ilmuwan negara maju yang berpendapat bahwa riset yang baik tidak bisa dilaksanakan di negara berkembang, pikirnya.

Lain lagi cerita seorang ahli Mikrobiologi India. Beberapa waktu yang lalu dia mempublikasikan hasil risetnya di jurnal biokimia dan biofisika lokal di India. Tak lama kemudian dia memperoleh kiriman preprint dari seorang ilmuwan Eropa yang menggunakan metode persis sama dengan metode risetnya, hanya mikrobanya saja yang berbeda. Namun preprint itu sama sekali tidak menyebut-nyebut tulisan ahli Mikrobiologi dari negara ber kembang ini. Ironisnya sang pengarang dari Eropa itu menempelkan catatan kecil buat ilmuwan India tadi, "senang sekali saya membaca paper anda."
 

MASALAH DARI PROSES PENJURIAN ("REFEREEING")

Hampir semua ilmuwan yakin bahwa proses penjurian sangat penting bagi kelangsungan hidup setiap disiplin ilmu. Proses ini dipercayai akan mengeliminasi penelitian-penelitian yang dianggap buruk dan tidak memenuhi kriteria ilmiah, namun meloloskan artikel yang benar-benar memberikan kontribusi bagi perkembangan satu cabang ilmu. Keras atau tidaknya proses ini bervariasi dari satu jurnal ke jurnal yang lain. Tentu saja sebuah jurnal internasional yang memiliki prestige tinggi (tidak semua jurnal yang bertitel internasional dapat dijamin ke-internasionalan-nya) akan menerapkan proses penjurian yang sangat ketat untuk menjaga kredibilitasnya.

Meskipun demikian, para editor menyadari bahwa proses penjurian tidak akan luput seratus persen dari subyektifitas juri yang dipilih. Untuk itu beberapa jurnal menerapkan sistem penjurian 'buta' ("blind reviewing") dengan menghilangkan nama serta institusi asal penulis artikel selama proses penjurian. "Physical Review", jurnal terkemuka untuk bidang fisika di Amerika, memberikan kesempatan bagi penulis yang papernya ditolak oleh juri untuk 'naik banding'. Editor akan menunjuk anggota dewan editor atau mencari juri baru yang akan menilai kembali paper tersebut. Jika juri kedua juga menyatakan menolak artikel tersebut namun penulis artikel tetap keberatan serta menganggap adanya rasa sentimen dari para juri, maka penulis dapat meminta pimpinan jurnal untuk meninjau kasusnya. Akhirnya, jika penulis masih menganggap perlakuan yang kurang adil baginya, penulis dapat mengajukan suatu sidang khusus kepada editor yang akan dihadiri oleh para staf akhli dari jurnal dan komite khusus dari "American Physical Society". Jika hal ini sempat terjadi, maka semua rekaman komunikasi antara editor dan juri yang sebelumnya dirahasiakan akan dibuka di sidang tersebut. Dengan demikian "Physical Review" menganggap telah memberikan proses penjurian yang seadil mungkin.

Untuk menghindari derasnya arus artikel masuk yang dianggap tidak memenuhi kriteria ilmiah, "Nuclear Physics", sebuah jurnal terkemuka untuk fisika nuklir di Eropa, tegas-tegas menuliskan di halaman pertama dari jurnal bahwa proses penjurian untuk jurnal ini sangat ketat dan kurang dari 50 persen artikel yang masuk (termasuk juga artikel dari negara-negara industri) dapat lolos dari proses penjurian pertama. Selebihnya, sebagian harus direvisi, sebagian lagi ditolak.

Jurnal lain seperti "Physical Review Letters" menggunakan dua orang juri dari institusi berbeda untuk me"review" artikel yang masuk. Artikel baru dapat dipublikasi jika kedua juri sepakat akan pentingnya kontribusi artikel dalam pengembangan fisika teori atau eksperimen.

Karena identitas juri dirahasiakan, tentu saja juri akan cukup bebas untuk mengritik, mencari kelemahan, ataupun menyatakan bahwa paper yang dia nilai sama sekali tidak memiliki bobot ilmiah. Dengan demikian proses ini cukup 'kejam' dan tidak mengenal istilah 'belas kasihan'. Seorang kolega penulis menceritakan bagaimana kerasnya komentar professornya pada saat 'membantai' sebuah artikel yang berasal dari ilmuwan Korea Selatan. Professor tadi akhirnya merekomendasi editor agar tidak memuat artikel tersebut di dalam jurnal.

Gejala-gejala di atas pada akhirnya menimbulkan kecurigaan bagi ilmuwan dari negara berkembang yang menuduh adanya "prejudice" dari juri yang mendiskriminasi paper-paper dari negara berkembang. Jurnal "Science" contohnya, hanya meloloskan sekitar 1,4 persen paper yang masuk dari 12 negara berkembang yang ikut andil dalam pengembangan ilmu. Kontrasnya, jurnal yang meliputi hampir semua disiplin ilmu ini mempublikasikan lebih dari 21 persen paper yang masuk dari Amerika saja.

Rendahnya mutu representasi pada artikel diyakini kebanyakan editor sebagai refleksi dari miskinnya kualitas sains di negara berkembang. William H. Glaze, seorang editor dari jurnal "Environmental Science and Technology" memberikan contoh untuk bidang tersebut, "Ilmu lingkungan di negara-negara berkembang pada kenyataannya jauh tertinggal di belakang negara-negara industri. Bukan semata-mata kuno, namun kadang-kadang penelitian tidak dilakukan dengan baik. Pendokumentasian yang berkualitas rendah serta metode eksperimen yang tidak memenuhi standart merupakan problem utama mereka."

Ada juga editor yang menilai terlalu jauh dari segi bahasa. "Jika saya melihat penulis yang melakukan kesalahan berulangkali dalam hal ejaan, sintaks, atau semantiks, saya pun akhirnya meragukan, jangan-jangan penulis juga telah melakukan banyak kesalahan dalam penelitiannya," tegas Floyd E. Bloom dari "Science". Namun konklusi ini terlihat sekali terlalu ceroboh jika kita perhatikan persentasi paper yang dimuat di "Science" yang berasal dari India (yang mayoritas penduduknya dapat berbahasa Inggris) tetap jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara seperti Jerman atau Perancis.

Untungnya, banyak juga editor jurnal yang berpendapat bahwa dunia ilmu pengetahuan akan menjadi lebih kaya jika negara-negara berkembang juga diikut-sertakan untuk berperan. Suatu jaringan kerja global peneliti telah terbentuk atas gagasan Richard Horton, ketua asosiasi editor jurnal kedokteran. Jaringan ini akan membantu editor-editor jurnal kedokteran  dari negara berkembang dan berusaha menunjukkan bahwa perbedaan kultur sering disalah-terjemahkan oleh para ahli sebagai bobroknya sains di negara dunia ketiga.

Tentu saja tidak semua editor setuju dengan ide ini. Suara minor datang dari pimpinan editor "New England Journal of Medicine", Jerome P. Kassirer. Ia menolak bergabung dengan jaringan kerja yang dibentuk oleh Horton dengan dalih bahwa negara berkembang lebih membutuhkan bantuan nutrisi dan immunisasi daripada ikut berperan-serta dalam proses editorial jurnal. "Negara-negara miskin harusnya lebih memperhatikan masalah mereka daripada mengerjakan penelitian "high-tech". Tidak ada sains sama sekali disana!" tandasnya. Namun ia sama sekali tak dapat menyangkal bahwa baru-baru ini jurnalnya memuji suatu hasil penelitian dari dokter-dokter di institut riset medis Kenya yang menemukan cara diagnose malaria yang sangat akurat dan mudah. Dengan metode baru ini para pasien malaria, yang membunuh lebih dari 3000 orang perharinya, dapat diselamatkan. Paradoks sekali dengan perkataan Kassirer!

"Saya sangat sedih mendengar orang yang memiliki posisi serta autoritas seperti Kassirer bisa berpendapat demikian. Hal tersebut dapat menimbulkan gejala 'ethnocentrisme'," tegas Horton.

Perbedaan filosofi dari editor kedua jurnal tersebut juga dicerminkan dengan laju penerimaan paper dari negara berkembang di kedua jurnal. Jurnal Kassirer meloloskan hanya 2 persen paper tersebut, sedangkan jurnal Horton mempublikasikan sekitar 8 persen. Filosofi editor juga dapat menjelaskan mengapa lebih dari 20 persen artikel yang diterbitkan oleh jurnal "Forest Science" berasal dari negara berkembang. Seorang editornya berkata: "Ilmuwan di negara berkembang saya perlakukan sebagaimana saya memperlakukan tanggapi dia sebagai orang yang bodoh karena tidak mengetahui apa yang saya ketahui, saya tidak akan dapat memperoleh apa-apa dari dia. Namun jika saya akui bahwa dia memiliki pandangan yang tajam dan penuh ide, hanya saja agak berbeda dari pandangan saya, maka kami pun dapat bekerjasama dan saling melengkapi."
 

INTERNET SEBAGAI PENDUKUNG KOMUNIKASI ILMIAH

Internet sebagai akselerator komunikasi antar ilmuwan sudah tidak dapat dipungkiri lagi kenyataannya. Hampir semua lembaga pendidikan tinggi dan lembaga penelitian di dunia dihubungkan oleh jaringan komputer raksasa ini (saat ini sekitar 40.000 host komputer dihubungkan oleh internet). Para ilmuwan kini dapat bertukar informasi dan data hasil penemuan mereka dalam waktu hanya beberapa detik melintasi samudra dan negara. Dampaknya dalam hal publikasi hasil penelitian pun sangat besar. Artikel yang dimaksudkan untuk dipublikasi dapat dikirim melalui mail elektronik (e-mail), termasuk juga gambar atau plot yang menyertai artikel jika mungkin diubah dalam bentuk media magnetik dan dikirimkan dalam bentuk file "postscript" atau sejenisnya. Dengan demikian baik penulis paper maupun editor dapat menghe mat biaya dan waktu pengiriman artikel.

Karena artikel sudah dipersiapkan oleh penulis dengan makro tertentu, editorial sebuah jurnal juga dapat menghemat biaya dan waktu editing. Semua kesalahan ketik ("misprint") yang sangat mungkin terjadi pada saat editing dapat dihindari, sebab tanggung jawab tersebut diserahkan sepenuhnya kepada penulis artikel. Dengan demikian proses penjurian pun dapat dilakukan jauh lebih cepat dari cara konvensional. Meski saat ini hampir semua jurnal ilmiah memiliki fasilitas internet, pengiriman paper dengan cara konvensional masih tetap dilakukan, mengingat tidak semua ilmuwan memiliki akses.

Di sisi lain internet juga mendorong berdirinya semacam "billboard" (database) bagi beberapa disiplin ilmu. "Billboard" ini memberi banyak kemudahan karena dapat diakses kapan saja dan dari mana saja dengan e-mail, ftp ("file transfer protocol"), atau melalui WWW ("World Wide Web") yang saat ini sedang "trendy", selama fasilitas internet tersedia. Setiap orang dapat mengirimkan publikasinya ke "billboard" tersebut yang (saat ini) tidak memerlukan proses penjurian, karena status artikel yang masuk adalah "preprint" (belum dikirim ke jurnal untuk dipublikasi).

Salah satu contohnya adalah "billboard" fisika terbesar yang dipasang di Los Alamos National Laboratory, New Mexico, USA. "Billboard" ini mencakup lebih dari 10 sub-disiplin ilmu fisika mulai dari matematik, fisika partikel energi tinggi hingga fisika zat padat, eksperimen ataupun teori. Mulai beroperasi sejak tahun 1992, "billboard" ini sudah menampung ribuan paper ilmiah dalam bentuk data magnetik. Setiap harinya komputer buatan Hewlett Packard yang dipasang di laboratorium yang pernah terkenal sebagai pusat "Manhattan Project" itu mengirimkan sekitar 20.000 e-mail membawa abstrak paper ke seluruh pelanggan di mancanegara. Pelanggan yang tertarik dengan salah satu artikel yang masuk dapat memesan paper dengan fasilitas e-mail. Untuk menjaga agar data yang terkumpul dalam ratusan gigabyte "harddisk" di Los Alamos tersebut tidak lenyap begitu saja jika terjadi kerusakan pada sistem komputer (atau katakanlah satu kebakaran besar akan menghanguskan semua data ilmiah yang tersimpan di sana), paper yang masuk akan secara otomatis dikopi di "billboard" fisika di Italia. Beberapa perpustakaan fisika di Amerika, misalnya "Stanford Linear Acce lerator Library", juga mengkopi paper yang masuk dan menyimpannya dalam bentuk informasi magnetik yang bisa diakses dengan WWW.

Keunggulan penyimpanan informasi ilmiah dalam bentuk data magnetik adalah segi kekompakan dan kepraktisannya. Meledaknya jumlah jurnal ilmiah saat ini sebagai akibat pesatnya perkembangan setiap disiplin ilmu yang menghadirkan bermacam-macam sub-disiplin baru, cukup membuat perpustakaan-perpustakaan di negara industri kewalahan. Bayangkan saja, jumlah informasi ilmiah yang ada saat ini akan berlipat ganda setiap 12 tahunnya. Para ahli memperkirakan untuk literatur Biomedis saja, jika semua jurnal-jurnal bidang ini yang muncul selama setahun ditumpukkan, maka onggokan jurnal akan mencapai ketinggian sekitar 800 kaki (+- 240 m), jauh melebihi ketinggian tugu monas kita. Namun jika informasi tadi disimpan dalam bentuk CD-ROM, perpustakaan akan membutuhkan kurang dari 1000 CD, praktis sekali. Penelusuran literatur pun akan menjadi luar biasa cepat, dibandingkan jika kita harus pergi ke perpustakaan membolak-balik ribuan lembar halaman jurnal konvensional. Dari segi harga, jelas CD-ROM akan jauh lebih murah dibandingkan jurnal kertas konvensional. (Harga langganan satu volume jurnal saja rata-rata US $12.000 atau sekitar Rp. 24 juta pertahunnya!)

Untuk mengantisipasi melesatnya kemajuan informasi ilmiah yang dilecut oleh internet, beberapa jurnal segera menyediakan fasilitas "on-line" bagi pelanggan yang memakai internet. Elsevier Science, perusahaan penerbit jurnal-jurnal sains yang berpusat di Amsterdam, misalnya, tahun lalu telah membuka jurnal elektronik perdana: "Nuclear Physics Electronic". Dengan fasilitas ini, pelanggan dapat segera melihat artikel-artikel yang sudah lolos seleksi juri dan siap untuk dicetak dalam jurnal "Nuclear Physics".

Tampaknya semua proses akan berjalan semakin cepat, apalagi dengan hadirnya teknologi fiber optik yang dapat menyalurkan informasi digital hingga seratus kali lebih cepat daripada kawat tembaga. Namun, ironisnya, negara-negara berkembang masih menjadi spektator saja melihat arus kemajuan teknologi yang merambatkan informasi-informasi ilmiah ke seluruh relung-relung negara industri. Ibarat suatu show untuk unjuk keunggulan, negara berkembang saat ini masih dijadikan penonton belaka.

Apakah hal ini akan dibiarkan begitu saja? Tentu saja tidak!

Dari peta internet dunia yang dikeluarkan oleh "Internet Society" pada tahun 1994 terlihat bahwa Indonesia termasuk negara yang paling rendah (dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki fasilitas internet lainnya) dilihat dari jumlah "host" komputer per populasi penduduknya. Ini juga masih bisa kita sukuri, sebab di beberapa negara Asia dan Afrika, saluran internet sama sekali tidak ada.

Akses internet sangat bergantung pada fasilitas sambungan telefon. Oleh sebab itu negara-negara yang memiliki fasilitas telefon yang kurang memadai sangat sulit untuk bergerak masuk ke internet. Suatu survei yang dilakukan pada tahun 1993 di Afrika menemukan bahwa biaya rata-rata untuk sambungan telefon inter nasional sekitar Rp. 10.000,- per menitnya, sedangkan pengiriman satu halaman fax membutuhkan biaya sekitar Rp. 60.000.- Sebagai bahan perbandingan, gaji rata-rata seorang staf pengajar pada universitas berkisar sekitar Rp. 200.000,- Dapat dibayangkan betapa sulitnya seorang ilmuwan di sana untuk mempublikasikan sebuah paper tanpa dukungan internet.

Michael Jensen dari "International Telecommunication Union" mencatat bahwa saat ini sambungan telefon di Afrika sangat kurang. Jumlah telefon yang ada di seluruh Afrika saja jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah telefon di Manhattan sendiri. Sangat logis jika biaya fasilitas yang menggunakan jaringan telefon akan sangat mahal. Hal ini merupakan konstrain utama untuk pengembangan internet di daerah tersebut.

Dengan demikian, perbaikan fasilitas telefon serta pengadaan cukup banyak sambungan dengan biaya operasi yang rasional sangat mutlak untuk mendukung masuknya internet. Beberapa ahli juga sudah menghimbau agar UNESCO dapat mengusahakan agar semua ilmuwan di dunia mendapatkan kemudahan untuk memperoleh akses ke internet. Saat ini tiga perusahaan telefon besar di dunia AT&T, Alcatel, dan Flag mengusulkan untuk menghubungkan Afrika ke internet dengan kabel fiber optik bawah laut. Belum ada realisasi yang jelas, namun para ilmuwan tidak cepat pesimis. Terlepas dari semua hal tersebut, seorang arkeolog dari Afrika mengkhawatirkan bahaya terbesar yang akan ditimbulkan oleh internet, yaitu terciptanya kelas-kelas miskin baru yang diakibatkan oleh jurang informasi antara negara kaya dan negara miskin di dunia.
 

INISIATIF MAHASISWA INDONESIA di LUAR NEGERI

Cukup banyak mahasiswa kita yang telah menyadari betapa pentingnya publikasi ilmiah dalam pengembangan ilmu. Beberapa mahasiswa Indonesia di luar negeri mulai membentuk kelompok-kelompok diskusi ilmiah dan berusaha menerbitkan jurnal yang bersifat "non-spesialized", mencakup hampir semua disiplin ilmu, untuk menggalang dan mendokumentasikan kegiatan dan hasil penelitian ilmiah mahasiswa Indonesia yang lazimnya dipublikasi di jurnal-jurnal mapan yang sudah terspesialisasi.

Di Kanada contohnya, diprakarsai oleh Budi Rahardjo (mahasiswa program doktor di University of Manitoba) beberapa mahasiswa Indonesia yang ter gabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Indonesia di Kanada (Formika) dalam waktu dekat akan menerbitkan jurnal ilmiah dengan nama Bianglala. Jurnal ini merupakan transisi dari majalah populer yang diterbitkan oleh Indonesian Students Group di University of Manitoba ke majalah ilmiah. Rencananya, jurnal yang telah memiliki ISSN ini akan disebarkan lebih luas ke berbagai departemen/lembaga pemerintah, perguruan tinggi serta institusi-institusi swasta (NGO).

Menurut Budi Rahardjo, hambatan utama yang dihadapi oleh timnya adalah keterbatasan waktu yang tersedia, mengingat tim pekerja seluruhnya adalah mahasiswa. Namun ia berharap kelak majalah ilmiah ini akan dapat dikelola secara profesional. Untuk itu ia sangat mengharapkan dukungan serta partisipasi dari institusi-institusi terkait di Indonesia.

Di Jerman, melalui komunikasi e-mail beberapa mahasiswa Indonesia sejak akhir Juni lalu membentuk jaringan kerja studi mahasiswa Indonesia yang disingkat JASMI. Diskusi yang digelar JASMI pada mulanya sangat beragam, berpindah dari satu topik ke topik lain. Pada prinsipnya JASMI ingin bergerak di semua kegiatan ilmiah, mulai dari diskusi atau seminar hingga penerbitan sebuah jurnal. Namun, pada saat isyu tentang publikasi ilmiah berkembang di jalur elektronik tersebut, peserta diskusi mulai merasakan perlunya media penerbitan informasi ilmiah sebagai realisasi nyata sumbangan seorang calon ilmuwan. Karena tingginya intensitas diskusi, dalam waktu kurang dari dua bulan susunan "editorial board" dan editorial pelaksana sudah terbentuk, melibatkan mahasiswa Indonesia dari Kiel (kota di ujung Utara Jerman) hingga Wienna, Austria.

Diprakarsai oleh Totok Suharto di Mainz, seorang karyasiswa Indonesia asal Bengkulu, jurnal tadi disepakati bernama RESONANSI, mungkin untuk mengingat proses terbentuknya jaringan elektronik tersebut. RESONANSI akan diterbitkan oleh Kelompok Ilmiah Mahasiswa Indonesia di Goettingen (Wissenschaftliche Gemeinschaft indonesischer Studierende in Goettingen e.V.), salah satu organisasi mahasiswa Indonesia yang terdaftar resmi pada pemerintah Jerman. Rencananya, edisi perdana jurnal yang akan memuat sekitar 10 paper ilmiah dari berbagai disiplin ilmu yang ditulis oleh mahasiswa Indonesia (ada juga yang ditulis bersama-sama peneliti Eropa dan Amerika) digelar pada peringatan Sumpah Pemuda tahun ini.

Sambutan dari para mahasiswa cukup menggebu. Belum juga edisi perdana terbit, sekitar sepuluh paper sudah masuk menunggu proses penjurian untuk edisi kedua. Hambatan klasik tetap ada, siapa yang mau membiayai edisi perdana ini? Pihak KBRI di Bonn menolak untuk mengucurkan hibah buat membantu tim editor mencetak jurnal, namun mahasiswa tidak kehilangan akal. Lewat komunikasi e-mail masalah biaya didiskusikan, tanggapan pun bermacam-macam. Bahkan ada professor Jerman (yang membimbing mahasiswa Indonesia) yang sanggup untuk membantu biaya pengiriman jurnal nanti. Namun akhirnya diputuskan biaya penggandaan akan ditanggung bersama oleh mahasiswa secara gotong royong. Pada prinsipnya, sejak awal proses sudah dilakukan dengan gotong royong, memanfaatkan keahlian yang dimiliki para mahasiswa. Misalnya, untuk perancangan kulit muka jurnal seorang mahasiswi yang belajar seni rupa telah dimintai kesediaannya.

Tim editor berharap, dengan terbitnya edisi perdana ini, edisi kedua sudah dapat diusulkan untuk memperoleh ISSN. Guna menjembatani mahasiswa dan ilmuwan Indonesia yang berada di dalam serta luar negeri, tim editor mulai menjalin kontak dengan beberapa ilmuwan serta institusi di Indonesia dan mengundang beberapa ilmuwan di tanah air untuk turut mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal RESONANSI.
 

MEMPERBAIKI MUTU PENELITIAN di DALAM NEGERI

Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan ilmuwan negara berkembang terhadap sikap superioritas ilmuwan negara maju, benar atau tidaknya pandangan Kassirer yang menganggap tidak ada sains di negara berkembang, ilmuwan Indonesia tetap harus melakukan introspeksi diri, mengapa dengan sumber daya alam dan manusia yang begitu berlimpah di Indonesia, perkembangan ilmu pengetahuan di negeri ini tidak secepat perkembangan di negara tetangga?

Memang banyak anggapan bahwa hal ini diakibatkan oleh kurangnya penghargaan terhadap peneliti dan penelitian di Indonesia. Namun argumen ini tak lebih merupakan bagian dari lingkaran setan yang tidak akan pernah ditemui ujungnya. Menyadari akan kemerosotan dana riset fisika di seluruh dunia, D. O. Riska, seorang fisikawan senior dari Universitas Helsinki, pada satu konferensi fisika internasional di Williamsburg USA tahun lalu yang dihadiri sekitar 400 fisikawan dari mancanegara, menekankan bahwa ilmuwan harus mampu menjelaskan kepada lingkungan disekitarnya apa yang dia kerjakan dan mengapa dia mengerjakan itu. Jika masyarakat mengerti arti pentingnya penelitian, tidak perlu disangsikan dukungan akan mengalir dari mana saja.

Kerjasama-kerjasama internasional di dalam penelitian sangat perlu untuk memperbaiki mutu penelitian serta meningkatkan gairah peneliti. Gagasan-gagasan ilmiah yang cemerlang tentu saja tetap akan mendapat penghargaan yang layak di dunia ilmiah. Konsentrasi para ilmuwan Indonesia yang sering terpecah akibat masalah-masalah sosial lainnya harus kembali dipusatkan, agar dapat mengimbangi kemajuan sains negara-negara tetangga. Dukungan dari pemerintah terhadap riset ilmu-ilmu murni dan terapan dapat merupakan tombak utama yang dapat memutuskan lingkaran setan yang selalu dikambing-hitamkan telah menjerat para ilmuwan dari kemajuan. Dari sisi ekonomi mungkin akan muncul pertanyaan masalah efisiensi dan efektivitas penelitian ilmu murni yang sering dianggap belum saatnya untuk digeluti oleh negara berkembang. Namun harus diakui bahwa secara sadar atau pun tidak, selama ini kita telah mampu memberikan kontribusi untuk perdamaian dunia. Mengapa kita juga tidak mampu menyisihkan sebagian kecil tenaga kita untuk kesejahteraan ummat manusia di masa mendatang? Lagipula, hampir semua teknokrat di planet ini sudah mengakui bahwa lembaga pendidikan seperti universitas merupakan institusi yang paling tidak efisien dan paling rumit birokrasinya.

Kualitas jurnal dalam negeri juga harus ditingkatkan dengan banyak belajar dari pengalaman para pengelola jurnal negara berkembang lain. Gairah menulis dikalangan para peneliti masih harus terus dipacu. Pada akhirnya, peneliti kita pun dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan serta kredibilitasnya.

Para ahli telah melihat adanya trend perkembangan jurnal elektronik yang menyimpan informasi ilmiah dalam bentuk data magnetik. Diperkirakan, jurnal elektronik ini akan menggantikan jurnal-jurnal kertas konvensional pada dekade mendatang, mengingat segi kepraktisan dalam penyimpanan dan pengolahan data megnetik. Di masa mendatang perpustakaan-perpustakaan tidak perlu pusing memikirkan ruangan yang diperlukan untuk menyimpan ribuan jurnal yang terus akan berkembang jumlahnya, cukup menyediakan fasilitas komputer dan printer laser (berwarna). Para peneliti dapat mengakses jurnal-jurnal secara cepat, mencari literatur dengan mudah, dan bila dia memerlukan hardcopy paper tinggal mencetak dengan laser printer.

Melihat trend di atas, tampaknya Indonesia harus mengantisipasi masalah ini dengan menghadirkan satu sistem network perpustakaan yang menghubungkan seluruh perpustakaan di setiap universitas di Indonesia. Tidak banyak pilihan lain, kecuali mengembangkan fasilitas internet di Indonesia yang harus dapat menjangkau semua kota. Tentu saja fasilitas telefon harus segera ditingkatkan. Pemerintah harus dapat menjamin adanya sistem "on-line" bagi setiap perpustakaan universitas yang dapat diakses oleh para peneliti dari laboratorium mereka masing-masing.

Mungkin, cukup perpustakaan sentral saja yang perlu berlangganan jurnal elektronik mengingat biaya melanggan yang relatif mahal, meski berlangganan data magnetik akan jauh lebih murah ketimbang berlangganan jurnal konvensional. Perpustakaan di universitas atau kota lain dapat mengakses data dari perpustakaan sentral dengan fasilitas internet. Perpustakaan sentral juga dapat menyimpan jurnal-jurnal dalam bentuk CD-ROM yang sangat menghemat ruangan dan mempercepat proses penelusuran literatur.

 

BAHAN BACAAN

* W. W. Gibbs, "Lost Science in the Third World", Scientific American,    Agustus 1995.
* G. Stix, "The Speed of Write", Scientific American, September 1994.
* Los Alamos E-Print Archives, dapat diakses melalui WWW dengan url  http:/xxx.lanl.gov/
* Dokumentasi JASMI, juga dapat dilihat dengan url  http://www.uni-koblenz.de/exec/execute.svr/home/lim/jasmi.html
* Penulis juga berterimakasih untuk jasa baik beberapa mahasiswa Indonesia di Jerman dan Kanada yang telah membantu mengumpulkan data kegiatan ilmiah mahasiswa Indonesia di luar negeri.
 

KETERANGAN HISTOGRAM

Amerika merupakan pusat sains dunia, setidaknya menurut versi "Science Citation Index" (SCI) yang dikeluarkan oleh Institute for Science Information pada tahun 1994. Mungkin ini dapat menjawab mengapa tujuh dari sembilan hadiah nobel untuk sains tahun ini (1995) lari ke Amerika, hanya dua yang tetap tinggal di Eropa (Jerman dan Belanda). Dengan persentasi kutipan referensi dunia hampir sekitar 31 persen, negara paman Sam ini tidak terkalahkan meski Masyarakat Eropa Bersatu bergabung mengumpulkan 'kutipan'nya (total +- 26 persen). Setelah Amerika, ternyata Jepang merupakan negara yang harus diperhitungkan oleh para ilmuwan.

Di deretan negara berkembang India mempelopori sains dengan perolehan sekitar 1,6 persen, diikuti Cina dan Taiwan. Para ilmuwan Indonesia patut berpikir keras, mengapa persentasi yang begitu kecil (di bawah Thailand, Nigeria, Malaysia, dan Filipina) dapat terjadi.

(Terry Mart adalah mahasiswa program Doktor pada Institut fur Kernphysik   Universitat Mainz)