Pembusukan Akademis

(Kompas, Jum'at, 29 Juli 2011)

Kebanyakan insan akademis di Perguruan Tinggi (PT) secara sadar atau tidak sadar sudah tenggelam dalam bisnis pendidikan. Mengapa saya berani berkata demikian? Bisnis pendidikan merupakan bisnis yang sangat menjanjikan. Betapa tidak, jumlah konsumen yang semakin meningkat setiap tahunnya (data Dirjen Dikti Kemendiknas memperlihatkan bahwa dari sekitar 5 juta mahasiswa yang aktif, hanya sekitar satu juta yang dapat tertampung di PT negeri), sementara daya beli konsumen pun juga meningkat. Di lain pihak, dengan sedikit argumen justifikasi, modal investasi untuk bisnis ini dapat diturunkan sampai ke titik yang mencengangkan, resiko kerugian bisnis pun dapat ditekan, dan break even point dapat dicapai dalam kurun waktu luar biasa singkat. Jangan ditanya tentang kualitas hasil, yang penting adalah cara membungkus pendidikan tinggi ini sebaik mungkin, sehingga terlihat sangat ilmiah dari kejauhan. Dari situs Dirjen Dikti jelas terlihat jumlah PT swasta (PTS) meningkat tajam akhir-akhir ini dan bahkan dapat mencapai 200 institusi baru per tahun.

Namun, seperti dipercaya semua fisikawan, energi bersifat kekal. Peningkatan kuantitas yang begitu pesat tanpa diiringi penambahan investasi yang luar biasa pastilah akan menghasilkan penurunan kualitas yang sangat dramatis pula. Sudah banyak ahli pendidikan yang berteriak-teriak mengingatkan kita akan bahaya penurunan kualitas ini, namun tampaknya sudah sulit menghentikan degradasi atau pembusukan akademis ini. Akibat yang paling kentara adalah seperti yang diprihatinkan oleh mendiknas baru-baru ini, proporsi mahasiswa teknik hanya 11% saja, sementara mahasiswa pertanian serta sains masing-masing hanya 3% saja. Padahal, ketiga bidang ini merupakan motor utama industri yang diharapkan dapat menghasilkan devisa bagi negara. Namun, tentu saja para pebisnis enggan masuk ke sektor tersebut karena modal yang diperlukan, berupa laboratorium dan perangkatnya, tidaklah sedikit. Sementara, jumlah konsumen pun tidak sebanyak bidang lain. Jadilah PTS-PTS mayoritas beraliran sosial-humaniora, atau jika masuk ke ranah sains-teknologi mereka menggarap bidang-bidang soft-science dan soft-engineering.

Apakah pembusukan akademis ini tidak pernah terjadi di PT negeri (PTN) yang kualitas dan kuantitasnya selalu berada dalam kendali pemerintah? Tunggu dulu. Imbas dari PTS tentu saja sangat kuat ke PTN, karena dosen yang bekerja di PTS atau bahkan pendiri PTS tersebut kebanyakan adalah dosen PTN juga. Jelas pembusukan itu juga terjadi, bahkan sudah terjadi, meski tidak disadari. PTN pun sudah lama tenggelam dalam bisnis pendidikan yang mencapai titik kulminasi saat Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Sebenarnya saya tidak ingin mendiskreditkan bisnis pendidikan, jika bisnis ini dilakukan dengan etika dan etiket yang benar dan tidak melupakan hakikat PT. Kita semua sadar bahwa PT-PT top di Amerika, Australia, Inggris, dan Jepang melakukan bisnis pendidikan melalui apa yang dinamakan corporate university. Di dalam sebuah corporate tentu saja etika dan etiket sangat ditentukan oleh nilai-nilai ekonomi. Namun, yang berbeda dengan PT kita adalah bahwa mereka tidak melupakan hakikat sebuah PT ketika menjalankan bisnis tersebut.

Hakikat sebuah PT memang dapat dilihat dari tujuan sebenarnya PT didirikan, misalnya (yang paling sering kita dengar) adalah sebagai tempat mencari kebenaran, penjaga nilai-nilai moral, tempat pengembangan ilmu, dan lain-lain. Meski demikian, di negara kita hakikat PT sebenarnya sudah didefinisikan secara sempurna oleh Tri-Dharma Perguruan Tinggi. Hanya saja pemahaman Tri-Dharma PT ini yang menjadi sumber masalah, karena secara tidak sadar sudah tergerus oleh bisnis pendidikan yang sudah kita jalankan selama puluhan tahun. Malangnya, kesalahan dalam pemahaman Tri-Dharma PT ini tercermin langsung dari poin-poin kum yang harus dikumpulkan dosen untuk naik pangkat hingga ke jabatan guru besar. Ketiga dharma ini dipilah dengan prosentase tertentu yang harus dilakukan, misalnya pendidikan minimal 30%, penelitian minimal 25%, dan seterusnya. Pemilahan ini jelas memperlihatkan ketidak-fahaman arti Tri-Dharma PT yang sebenarnya bersifat integral. Sebagai akibatnya adalah pemahaman klasik Tri-Dharma PT yaitu seorang dosen mengajar di depan kelas, kemudian di hari lain dia masuk laboratorium meneliti bersama mahasiswanya, dan di hari lain lagi bersama koleganya membawa berkardus-kardus mie instan melakukan bakti sosial, khitanan atau pun imunisasi masal. Bukan itu yang sebenarnya dimaksudkan oleh Tri-Dharma PT.

Di PT-PT top di Amerika misalnya, mereka tidak memiliki konsep Tri-Dharma PT, namun mereka telah menjalankan konsep tersebut dengan benar. Para insan akademis di sana melakukan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang integral. Penelitian dilakukan untuk menunjang apa yang mereka ajarkan dan menjadi alat utama mereka dalam pengabdian pada masyarakat. Jadi sama sekali tidak terpisah. Dengan demikian, seorang dosen fakultas kedokteran yang dalam penelitiannya mendapatkan misalnya vaksin ampuh untuk menyembuhkan flu burung, maka dia telah membuat topik kuliahnya menjadi sangat bermutu dan menarik serta telah melakukan pengabdian sangat berguna bagi masyarakat, jauh lebih berguna dari sekadar pergi ke daerah membagikan mie instan atau semacamnya.

Mengapa hal ini minim terjadi di negara kita? Penyebab utamanya adalah tenggelamnya para dosen dalam bisnis pendidikan, sehingga melupakan hakikat pendidikan tinggi itu sendiri. Parahnya lagi, saat seseorang direkrut menjadi dosen, dia tidak mempunyai pemahaman sama sekali bahwa seorang dosen itu adalah juga peneliti. Jika begitu maka sangatlah logis kalau banyak yang menganggap bahwa penelitian adalah proyek lain bagi seorang dosen dan banyak dosen yang melakukan penelitian yang bukan merupakan bidang kepakarannya, asalkan mendatangkan uang dan kum untuk kenaikan pangkat. Lebih parah lagi jika mayoritas dosen di PT tidak melakukan penelitian karena menganggap tugas utamanya adalah mengajar. Jika demikian, bagaimana ilmu dapat dikembangkan di PT?

Ada beberapa hal lain yang juga dapat menyebabkan distorsi pemahaman Tri-Dharma PT. Salah satunya adalah jargon teknologi tepat guna (TTG) yang sering sekali me-label-i persyaratan dalam memperoleh dana hibah penelitian. Apa yang dianggap TTG di negara kita saat ini mayoritas adalah teknologi yang sebenarnya sudah ada atau dapat dikembangkan oleh institusi lain, mulai dari sekolah kejuruan, akademi, industri, atau pun lembaga litbang pemerintah. Karena sifat intrinsik ini, penelitian yang mengarah ke TTG kebanyakan tidak dapat turut mengembangkan ilmu yang diajarkan di PT terutama ilmu yang bersifat frontier, sehingga dapat menimbulkan disintegrasi Tri-Dharma PT. Saya yakin bahwa bidang seperti ini bukan tempat peneliti di PT. Masyarakat berharap penelitian di PT dapat merambah ke tempat lain dimana institusi seperti sekolah kejuruan, akademi, industri, atau pun lembaga litbang pemerintah tidak mampu pegi ke sana. Agar PT tidak dicap sebagai menara gading yang menghasilkan produk-produk tidak langsung berguna bagi masyarakat, seyogyanyalah kita mulai menyusun Grand Design penelitian nasional yang dapat mensinergikan seluruh penelitian yang ada di republik ini.

(Terry Mart, Lektor pada Departemen Fisika, FMIPA, Universitas Indonesia)