Sulitnya Penelitian Ilmu Dasar

Indonesia hendaknya tidak mengabaikan penelitian yang bersifat fundamental karena negara yang kuat dalam penelitian dasar -termasuk negara berkembang seperti Cina, India, dan Pakistan- akan dapat menjadi negara yang sangat kuat pengembangan teknologinya. Demikian sambutan ketua LIPI yang ditulis harian Kompas 10 September 2003. Sambutan menristek, yang kala itu tidak sempat hadir, juga tidak kalah hangatnya, yang pada intinya menekankan perlunya perhatian pada pengembangan ilmu-ilmu dasar.

Semula saya tak terusik sama sekali dengan sambutan-sambutan tersebut. Toh sudah selayaknya  sambutan dalam suatu kongres membesarkan hati para peneliti yang hadir pada pembukaan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (Kipnas) VIII di Jakarta, atau bagi yang sempat membaca berita tersebut. Namun, besoknya saya mulai terusik oleh sambutan Presiden Megawati (Kompas, 11 September 2003) yang pada dasarnya menambah beban pemikiran para peneliti di republik ini yang sudah setengah sekarat hidupnya atau yang sudah setengah ganti haluan untuk menyambung hidup mereka. Ibu Presiden pada dasarnya meminta para ilmuwan untuk memikirkan, mengapa bangsa kita dahulu mampu membangun Borobudur? Mengapa kita dahulu bisa dan tercatat, mengapa sekarang tidak? Dahi saya berkerenyit, tampaknya ibu Presiden kurang menerima informasi betapa pimpinan negara berkembang seperti Cina begitu getolnya mendukung penelitian ilmu dasar dan tidak melepaskan masalah tersebut semata-mata kepada para ilmuwan mereka.

Saya kembali teringat wawancara majalah Science dengan Jiang Zemin tahun 2000 lalu. Ketika diwawancarai Jiang menekankan bahwa tidak akan ada bom atau reaktor nuklir jika tidak ada teori kuantum. Dengan bangga ia membeberkan pada Science bahwa Cina telah membangun instalasi-instalasi penelitian berskala besar seperti Beijing Electron Positron Collider, Akselerator Ion Berat Lanzhou, serta fasilitas Tokamak (untuk penelitian reaksi fusi). Cina juga telah mengusahakan untuk membuat suasana ilmiah sekondusif mungkin bagi sekitar 110.000 ilmuwan yang kembali ke tanah air mereka setelah banyak menimba ilmu di negara-negara maju. Jumlah tersebut hanyalah sepertiga dari jumlah mahasiswa dan ilmuwan yang berangkat keluar Cina antara tahun 1978 - 1999. Sisanya menetap di luar negeri bekerja di institusi penelitian, universitas, industri, serta sektor lain. Dengan SDM yang ada Cina saat itu telah menandatangani kerjasama penelitian ilmiah dengan 95 negara dan berpartisipasi pada sekitar 800 proyek ilmiah yang diluncurkan oleh institusi-institusi internasional.


Sulitnya Menerima Kenyataan di Indonesia

Mungkin semua peneliti ilmu-ilmu dasar mengetahui bagaimana sulitnya untuk tetap survive berkarir di bidang ini. Apa yang mereka alami mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang saya alami. Seperti layaknya staf pengajar muda yang baru menyelesaikan program Doktor di luar negeri, saya kembali ke Indonesia dengan semangat penelitian yang menggebu. Apa yang terlihat sembilan tahun lalu adalah surga impian para peneliti. Dana penelitian beorde ratusan juta rupiah berlimpah yang jika dikurskan pada saat itu setara dengan ratusan ribu Dollar US. Dengan secuil proposal, universitas tempat saya bekerja bersedia membayar separuh dari biaya tiket untuk konferensi di Amerika. Namun, malangnya, surga tersebut berubah seketika saat negara kita mulai dilanda krisis moneter.

Sejak saat itu saya mulai rajin menerima undangan penelitian atau konferensi ke luar negeri dengan catatan seluruh biaya harus ditanggung oleh kolega saya di sana. Saya sampaikan ke mereka bahwa untuk membeli tiket pesawat pun saya sudah tidak mampu. Untungnya, mereka dapat menerima kenyataan tersebut. Hal ini saya lakukan hingga tahun 2000 pada saat saya berpikir untuk mulai settle di Indonesia. Saya mulai mengikuti formalisme yang harus dijalani oleh seoarang pegawai negeri, yang sudah lama saya abaikan, mulai dari latihan pra-jabatan hingga mengurus kenaikan pangkat.

Banyak yang mengira bahwa dengan memiliki sekitar limapuluh publikasi penelitian di jurnal serta prosiding internasional maka saya dapat dengan mudah meloncati beberapa jabatan hingga melicinkan jalan saya untuk mencapai jenjang profesor lebih awal dibandingkan para pendahulu saya. Namun kenyataan yang terjadi lain sekali. Hingga saat ini saya masih harus puas sebagai pegawai negeri golongan IIIA dengan masa dinas 13 tahun karena sistem penilaian karya ilmiah yang berlaku tidak menguntungkan penelitian-penelitian berskala internasional.

Dengan gaji tetap plus segala macam tunjangan sebesar satu juta rupiah per bulan tentu saja saya harus pontang-panting mencari pekerjaan lain untuk menafkahi keluarga. Semula saya berharap banyak dari dana penelitian, namun untuk bidang ini tidak banyak dana penelitian yang dapat diharapkan. Baru-baru ini saya mengajukan proposal penelitian untuk dana hibah pasca sarjana, namun proposal tersebut langsung ditolak juri di babak penyisihan dengan alasan tidak konsisten (bayangan saya di babak ini kesalahan-kesalahan sederhana seperti salah warna cover proposal atau salah format dapat langsung langsung  menyebabkan  diskualifikasi).

Dapat dibayangkan betapa sulitnya untuk tetap konsisten di bidang ini. Saya juga tidak dapat menahan salah seorang staf dari grup saya yang mendapat posisi sebagai research associate di salah satu universitas di Amerika untuk tetap tinggal di republik ini karena saya tidak dapat menjanjikan apa-apa.


Penelitian Teori pun Sulit

Akhir-akhir ini banyak beredar pendapat bahwa ilmuwan di negara kita yang bergerak di bidang teori fisika atau kimia dapat lebih mudah berkontribusi di komunitas internasional. Tentu saja pendapat ini sangat menyesatkan, karena sepanjang pengamatan saya belum pernah terlihat ada seorang ilmuwan teori di negara ini yang dapat bertahan di taraf internasional secara konsisten hingga ia memasuki masa pensiun.

Banyak anggapan bahwa seorang teoritikus hanya membutuhkan selembar kertas dan sebatang pensil, sehingga biaya penelitian sangat murah. Anggapan ini sama gegabahnya dengan anggapan bahwa seorang petani hanya membutuhkan sebatang cangkul dan sebidang tanah untuk dapat menjadi pengekspor beras yang dapat bersaing di pasar internasional. Atau, sama bahayanya dengan anggapan bahwa seorang polisi hanya butuh sepucuk pistol dan selembar baju seragam untuk dapat membongkar jaringan teroris internasional. Justru apa yang saya lihat adalah kebalikannya. Banyak sekali peneliti-peneliti eksperimental dapat berkarya di taraf internasional secara konsisten hingga mereka memasuki masa pensiun. Dua di antara mereka yang sangat mudah saya ingat adalah Prof. Muhammad Barmawi dan Prof. Tjia May On dari ITB Bandung. Lalu apa yang membuat penelitian bidang teori sulit dilakukan di negara kita. Jawabannya pernah dilontarkan oleh Prof. Tjia: "you have to be unusual". Beliau sendiri aslinya adalah seorang fisikawan partikel teori, namun karena kondisi saat itu ia (bersama-sama dengan Prof. Barmawi) beralih ke eksperimen.

Sulitnya penelitian teori itu pertama-tama diakibatkan oleh kurangnya dukungan dana dan infrastruktur. Jangankan dukungan pihak industri, tengok saja yang namanya Riset Unggulan RUT, RUK, RUI serta RU-RU lain. Tidak ada satu pun yang dapat dimasuki oleh peneliti teori jika ia tetap konsisten dengan bidangnya. Sementara itu, rata-rata kolega penelitian saya di Amerika memiliki grant penelitian pribadi sebesar 200.000 Dollar US untuk penelitian selama tiga tahun di samping beberapa grant lain dari kelompok serta departemen mereka. Dengan grant tersebut mereka bebas mengunjungi konferensi-konferensi di mana saja, menggaji mahasiswa program doktor untuk membantu penelitian mereka, mengundang peneliti tamu, membeli peralatan pendukung seperti komputer atau sofware, dan lain-lain.

Dukungan infrastruktur juga masih lemah. Untuk tetap dapat survive di bidang ini seorang peneliti harus selalu berada dekat dengan komunitasnya. Komunikasi dengan internet memang membantu, namun tidak seefektif jika para peneliti dapat bertatap muka, duduk bersama-sama dengan koleganya dari mancanegara untuk mendiskusikan problem penelitiannya tanpa diganggu pekerjaan-pekerjaan lain. Perkembangan penelitian teori sangat cepat, jauh lebih cepat dari penelitian eksperimen. Sebagai contoh, baru-baru ini di bidang saya ditemukan partikel baru yang disebut partikel pentaquark. Di tengah kesibukan mengajar, membimbing mahasiswa program sarjana, serta rapat-rapat administratif lain saya menyempatkan diri menghitung produksi pentaquark dengan menggunakan foton dan membuat program komputernya. Satu minggu kemudian, sebelum saya sempat menulis paper, penelitian yang sama telah dipublikasi di sebuah preprint server.  Saya kalah cepat karena penelitian hanya sepertiga bagian dari tugas saya. Itu pun dalam kondisi ideal, biasanya hanya sepersepuluh atau seperseratus bagian!

Faktor lain yang memang alami adalah faktor publikasi. Mungkin karena membuat suatu teori jauh lebih cepat dibandingkan dengan melakukan eksperimen, konsekuensinya hanya sekitar 20% paper di bidang ini yang diterima untuk di publikasi di jurnal-jurnal internasional, sementara sisanya ditolak. Hal yang berbeda terjadi pada penelitian eksperimen, di mana hanya sekitar 20% paper eksperimen yang ditolak.

Kesemua problem di atas mungkin bukan apa-apa jika dibandingkan dengan problem kreativitas. Dibutuhkan kreativitas yang sangat tinggi untuk menghasilkan model-model teori yang dapat diterima oleh komunitas internasional karena persaingan sudah sangat ketat, padahal justru kelemahan kita -mungkin hampir di segala bidang- adalah pada permasalahan ini.


Kurangnya Ambisi dan Wawasan

Fisikawan Pakistan almarhum Abdus Salam pernah mengatakan bahwa salah satu kelemahan ilmuwan di negara-negara berkembang adalah kurangnya ambisi untuk menguasai sains dan teknologi. Hal ini mungkin disebabkan oleh latar belakang budaya serta kurangnya wawasan sains dari para pemimpinnya. Tentu saja Abdus Salam saat itu tidak mengharapkan dibangunnya sebuah akselerator besar di salah satu negara Arab, namun ia sangat menyayangkan mengapa fisikawan dari negara-negara kaya Timur Tengah ini tidak mau bergabung dengan pusat penelitian nuklir besar di Eropa (CERN), sementara Yunani yang relatif lebih miskin mau bergabung dengan CERN dengan membayar kontribusi yang disesuaikan dengan GNP mereka.

Apa yang terjadi dengan ilmuwan di negara kita? Saya kira kondisinya saat ini lebih parah dari negara-negara Timur Tengah. Sebagian ilmuwan kita telah berpikir pragmatis dan instan. Ditambah lagi dengan gaya berpikir peninggalan Orde Baru yang juga sudah merasuk ke lingkungan ilmiah, sehingga penelitian hanya sekadar dibuat sebagai formalitas untuk kenaikan pangkat, memperoleh tambahan pemasukan dari dana penelitian, dan lain-lain. Minim sekali ambisi ilmuwan kita untuk menekuni suatu bidang penelitian secara serius hingga ke jenjang internasional.

Faktor lain yang juga kurang mendukung adalah minimnya wawasan sains dari para pemimpin republik ini. Tidak pernah terdengar gagasan cemerlang dari para pemimpin bahwa investasi di bidang ilmu dasar merupakan tabungan masa depan yang sangat berharga. Para pemimpin juga berpikir instan, untuk apa membiayai penelitian yang mengawang-awang dan tidak membumi namun membutuhkan biaya mahal. Ada pula anggapan bahwa penelitian ilmu dasar tidak mendukung pembangunan nasional karena saat ini tidak dibutuhkan rakyat dan penelitian ilmu dasar seharusnya digali dari tradisi dan kejayaan bangsa di masa lalu. Kesemuanya menunjukkan kurangnya wawasan sains dari para pemimpin republik  ini.


Bukan Hanya  Misi Sosial

Banyak orang beranggapan bahwa misi yang diemban oleh peneliti ilmu dasar adalah misi sosial, karena sifat ilmu dasar yang lebih ditujukan untuk menyibak rahasia alam atau menjelaskan mekanisme proses-proses yang berlangsung di alam. Banyak pula yang beranggapan bahwa penelitian ilmu dasar hanyalah untuk memuaskan dahaga keingintahuan para ilmuwan. Pendapat ini tentu saja tidak bisa disalahkan, karena memang kedua hal tersebut merupakan pemicu utama aktivitas penelitian di bidang ini. Namun, manfaat penelitian tidak hanya berhenti di sana.

Penelitian ilmu dasar tidak pernah henti-hentinya mendorong manusia hingga ke batas kemampuannya (pushing to the limit). Di dalam penelitian fisika partikel, misalnya, dibutuhkan medan magnet dan listrik sekuat  mungkin guna mendorong partikel untuk bergerak secepat mungkin sambil menjaga lintasannya seakurat mungkin. Untuk membuat medan magnet yang sangat kuat dibutuhkan superkonduktor yang sangat stabil serta pendingin  untuk temperatur sangat rendah. Teknologi yang ada kadang-kadang belum dapat mengakomodir keperluan ini. Namun, keterbatasan teknologi sering melahirkan inovasi-inovasi baru yang memiliki aplikasi luas meski tidak pernah diduga sebelumnya, seperti pendinginan dengan medan magnet, misalnya. Tengok pula lahirnya World Wide Web yang kini sudah sangat populer di masyarakat awam sekalipun, yang pada mulanya dipicu oleh keperluan para eksperimenter di laboratorium partikel dan nuklir Eropa CERN untuk dapat mengakses hasil eksperimen dari mancanegara secara cepat.

Penelitian Lattice QCD dalam fisika partikel, misalnya, memerlukan komputasi berkecepatan tinggi karena akurasi hasil perhitungan sangat bergantung pada kemampuan numerik komputer yang dipakai. Namun, semakin besar komputer yang dioperasikan semakin besar pula dana yang diperlukan. Untuk menekan biaya para ilmuwan kemudian beralih ke komputer PC paralel dengan sistem operasi berbasis Linux yang bersifat gratis. Dengan demikian dana yang ada dapat dipakai untuk menghasilkan komputer dengan kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan dengan superkomputer yang dapat dibeli dengan harga yang sama.

Jadi, interaksi eksperimen pada penelitian dasar dengan teknologi canggih sangat erat. Wajar jika hanya negara-negara maju yang memiliki infrastruktur teknologi kuat dapat dengan mudah membangun instalasi penelitian dasar berskala besar. Meski demikian, dengan dukungan yang kuat dari pemerintahnya, negara berkembang seperti Cina juga dapat berpartisipasi.

Patut juga dicatat bahwa meski interaksi dengan teknologi cukup erat, penelitian dasar di seluruh manca negara didanai sepenuhnya dari pihak pemerintah karena tidak (atau hingga saat ini belum) ada industri yang tertarik untuk memproduksi quark, kaon, partikel Higgs, dan lain-lain.

(Dr. Terry Mart, staf pengajar dan peneliti pada Jurusan Fisika, FMIPA UI, Depok)



Versi Kompas